Lowongan Kerja

Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM) berdiri dia ambon pada tanggal 4 Juni 1994, bertujuan untuk mewujudkan masyarakat mandiri dan berusaha melestarikan peran serta masyarakat dalam mensukseskan pembangunan nasional secara keseluruhan melalui peningkatan pendapatan, derajat kesehatan serta melakukan kegiatan-kegiatan advokasi, peningkatan pengetahuan dan pendapatan masyarakat. LPPM bersifat nirlaba, independent, serta tidak berpihak pada aliran politik, keagamaan, kesukuan, maupun ras serta strata sosial masyarakat tertentu.

Pada saat ini LPPM membutuhkan 2 orang staf untuk bekerja pada Proyek Penguatan Kapasitas Masyarakat Adat Pulau Buano Untuk Pengelolaan Petuanan Adat Berkelanjutan di Pulau Buano selama 15 bulan, staff yang dibutuhkan adalah untuk mengisi posisi: Staf Lapangan (PL), 2 orang.

LOKASI KERJA kerja:
Pulau Buano, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku

GAMBARAN UMUM:
Staf Lapangan akan bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan pelaksanaan aktivitas penguatan kapasitas lembaga dan masyarakat adat, berkoordinasi dengan Pemerintah desa, Kepala-kepala Soa, BPD dan masyarakat, unsur pemerintah kabupaten/ kecamatan serta mitra kerja lainnya.

TUGAS:
1. Melakukan koordinasi/ konsolidasi dan sosialisasi program dengan pemerintah desa, kepala-kepala Soa-Dati dan stakeholder terkait di lokasi program
2. Menyediakan bantuan teknis dan membangun kerjasama dengan pemerintah desa, kepala-kepala Soa, kepala Dati dan masyarakat dalam penguatan kapasitas masyarakat adat untuk mencapai tujuan-tujuan konservasi di lokasi program
3. Membantu tenaga ahli dan program koordinator dalam merumuskan strategi untuk proses mendapatkan pengakuan masyarakat hukum adat Pulau Buano
4. Mengembangkan dan memperkuat jaringan kerjasama dengan pemangku kebijakan di masyarakat maupun pemerintah
5. Mengidentifikasi hasil-hasil proyek berikut praktik cerdas dan pembelajarannya, serta memfasilitasi diseminasi kepada publik untuk mendukung upaya pengarusutamaan

PERSYARATAN:
1. Pendidikan S1 Kehutanan, Antropologi dan Hukum. Memiliki kemampuan GIS dan pemetaan sosial merupakan nilai tambah
2. Pengalaman kerja minimal 1 (satu) tahun di bidang pemberdayaan masyarakat adat
3. Berpengalaman melakukan pemetaan dan survey potensi sumber daya alam
4. Menguasai, dibuktikan dengan pengalaman kerja dan portofolio individu.
5. Dapat bekerja sama secara baik dengan anggota tim maupun bekerja secara mandiri untuk mencapai target-target yang telah ditetapkan;
6. Menguasai Bahasa Indonesia yang baik, dan setidaknnya memahami dan mengerti bahasa lokal (Buano).
7. Bersedia tinggal di Buano selama masa program
8. Mampu bekerja secara mandiri dengan supervisi minimum
9. Jujur, kerja keras dan berkomitmen

Kirimkan surat lamaran ke:
1. Alamat email ke lppm_maluku@yahoo.com – tulis kode lamaran pada subjek email
2. Kiriman POS/diantar langsung ke alamat kantor LPPM.
Jl. Christina Martha Tiahahu, Karang Panjang No 24 RT/RW 001/01 Ambon
Cantumkan kode lamaran pada sudut kanan atas amplop

Lamaran sudah diterima paling lambat tanggal 05 september 2019 pukul 18.00 WIT. Hanya pelamar yang memenuhi syarat yang akan dipanggil untuk diwawancara.

TTD Direktur LPPM Maluku

Piet Wairisal

Iklan

Mata Rumah dan Tiang Doa

Pada dasarnya Perempuan diciptakan dari rusuk laki-laki sebagai penolong, sama seperti hawa dijadikan dari rusuk adam yakni sebagai sahabat, teman, pasangan dan yang utama sebagai penolong (Tujuan Allah menjadikan perempuan), bukan budak, pembantu, penonton dan pekerja serabutan.

Suatu ketika, Maria tahu rencana yang hendak dilakukan oleh ucu, yang ingin menjual hak milik adiknya yakni sebidang tanah yang diwariskan untuk sang adik, karena kebutuhan hidup ucu dan keluarga.

Ucu dahulunya adalah seorang laki-laki yang memiliki kebiasaan dan gaya hidup yang tinggi. Menikah dengan maria karena cinta, namun seringkali mengunjungi club malam sebagai tempat nongkrong bersama teman-temannya.

Ucu tiba pada kondisi kepepet karena hutang-hutangnya, dia telah diPHK dari tempat dimana ia bekerja, karena perusahan bangkrut.

Maria sadar tentang apa yang hendak dilakukan oleh ucu sejak ucu menanyakan sertifikat tanah yang diwariskan orangtuanya bagi adiknya.

Sepintas dari cerita diatas, jika anda adalah maria di dalam kisah di atas, apa yang akan anda lakukan? Jika sertifikat itu adalah milik adik anda atau milik adik ipar anda?
(Diberikan kesempatan kepada semua orng untuk diskusi dalam kelompok atau masing-masing pribadi kemudian disilahkan memberi tanggapan).

Penjelasan:
Jika seorang perempuan diciptakan hanya sebagai sumber masalah bagi laki-laki, maka pastinya ia tdk akan dijadikan dari laki-laki oleh Allah.
Sebagaimana Hawa dijadikan oleh Allah bagi adam, seharusnya hawa tdk menyarankan adam untuk makan buah itu meski dibujuk oleh iblis. Perempuan adalah sosok yang mudah terpengaruh atau tipis telinga yang sulit menguasai emosi dan pikirannya (bdk. Hawa).

Safira tahu tentang apa yg hndak dilakukan oleh ananias suaminya, mengapa harus ananias melakukan itu jika safira mampu meyakinkan dia untuk bekerja dan tdk haus akan yang bukan miliknya?

Sebagaimana kekuatan mengubah prinsip laki-laki, perempuan dengan lidahnya mampu mengubah hati lelakinya untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh perempuan itu (Hawa mampu mengubah prinsip adam untuk mencicipi buah itu – padahal sebelumnya adam menolak). Safira seharusnya mampu mengubah hati ananias untuk tdk seperti itu. Namun kenyataannya mereka saling mendukung untuk melakukan dosa itu!

Laki-laki sebagai kepala keluarga haruslah menjadi Kepala yang membawa RT itu kepada Iman dan percaya pada Tuhan, bukan kepada tindakan yang tidak takut pada Tuhan.

Jika adam kehilangan prinsip, maka laki-laki jaman now jangan hilang arah dan prinsip, harapan juga tujuan hidup. Laki-laki tahu mengambil perempuan sebagai istri, maka haruslah mereka bekerja sama dalam kasih Tuhan untuk menjadikan keluarganya, Rumah tangganya sebagai keluarga yang takut Tuhan.

Jika istri adalah pelayan, maka laki-laki harus membantunya. Jika laki-laki adalah pencari nafkah, maka perempuan harus pula membantunya. Semua yang dilakukan haruslah dengan dasar saling memahami, peduli, menghargai, mengalah, mengerti, mengasihi dan yang terlebih ialah takut akan Tuhan.

Perempuan tidaklah harus bertelinga Tipis dan laki-laki tidak harus berhati keras. Karena mereka diciptakan dan dijadikan serupa dan segambar dengan Allah, memiliki Akal dan budi sebagaimana segambar dan serupa itu.

Pelajaran:
Belajar dari kesalahan Hawa dan Safira, kita sebagai perempuan dianjurkan untuk dapat menguasai diri dan tidak terpengaruh pada bujuk rayu iblis dan orang ketiga bagi keluarga dan rumah tangga kita.

Belajar dari pengalaman hawa dan safira, jadilah perempuan yang mampu dan terus berusaha mengajak pasangan kita, keluarga kita kepada kehendak Tuhan pencipta.

Sebagai perempuan, jadilah tiang doa bagi suami, anak-anak, rumah tangga dan keluarga kita, agar kita dan seisi rumah kita diberkati Tuhan, jadilah tiang doa dan bukan tiang penghukum yang membuat kita dan keluarga kita diberi hukuman Tuhan.

Belajar dari Adam, sebagai yang memiliki prinsip dan ingat janji Tuhan, namun juga belajarlah untuk dapat menimbang apa yang baik dan patut dilakukan, juga apa yang tidak harus dilakukan.

Jadilah kepala keluarga yang membawa keluarga dan Rumah tangga ke jalan yang Tuhan kehendaki, agar keluarga dan Rumah tangga diberkati.

Jadilah mata rumah yang berwibawa dan berkarakter, juga berprinsip takut akan Tuhan agar mata rumah itu dipandang baik dimata manusia juga dimata Tuhan.

Bekerja samalah untuk mendidik Anak-anak kita menjadi anak yang takut akan Tuhan dan tau bagaimana menghargai Tuhan dan juga sesama.

Kritik terhadap Kis. 5:1-11, Tuhan berkati…

JANGAN KAGET ANGKA KASUS HIV MENINGGI

Menurut catatan WHO (Badan Kesehatan Dunia) atau bahasa trendnya “World Health Organization”, dong bilang begini: “HIV-AIDS itu seperti gunung es di tengah laut”, maksudnya Kecil/sedikit yang kelihatan namun besar/banyak tersembunyi di dasar.

Pada dasarnya HIV itu tidak akan kelihatan gejalanya lewat mata saya dan mata kamu bro/sist, dia akan diketahui hanya jika kamu dan saya testing blood/Periksa darah atau trendnya VCT dan kalau ybs mau testimoni statusnya, itu baru kita bisa tahu.

Next soal angka kasus yang katanya mencapai 3.000 (Sudah tercatat karena sudah diperiksa), ingat bro/sist kalau itu catatan kumulatif. Maksudnya apa? Ya itu menjelaskan kalau sejak Virus itu terdeteksi sampai sekarang itu jumlahnya. Ada yang sudah meninggal namun ada juga yang masih hidup.

Angka yang mencapai 3.000 itu memang angka yang kalau sampai di telinga, semua orang akan bilang WOW!!. Tapi itulah kerja keras dari Mereka yang kerja-kerja peduli HIV-AIDS. Mereka yang bekerja ada yang di LSM, Dinkes (di layanan kesehatan), KPA tingkat kota dan provinsi dan masih banyak stakeholder juga masyarakat umum yang turut berikan peluang diperiksa dan berbagi informasi dasar HIV juga keterbukaan untuk tidak mendiskriminasi orang dengan HIV/ODHIV/ODHA/SADHA, dll.

Ngga perlu takut dengan angka begitu, bersyukurlah kalau kamu sudah tahu, artinya kamu harus mawas diri dan stop perilaku seksual yang tidak bermoral. Kalau sudah punya isteri ya itu cukup, kalau baru pacaran ya jangan makan puji untuk ngesex.

HIV bukan disebabkan oleh orientasi seksual bro/sist, tapi perilaku seksnya. Jangan pernah bilang orientasi/ketertarikan secara seksual itu menularkan HIV, karena perilaku tidak setialah yang membawamu menjadi bagian dari HIV itu.

Ingat abjad A.B.C.D.E?
Langkah pencegahan yang ampuh 👍, not take a condom for single people, but take creed. Kondom hanya untuk yang sudah menikah bro. 😉

Saya peduli, makanya berbagi informasi. Jadi angka 3.000 atau berapapun itu stop pakai emoticon kaget, angka tinggi itu artinya mawas diri.

KEMATIAN – Hal Mistis ataukah Waktu Tuhan

Kebanyakan orang akan bertanya dia sakit apa? Dia meninggal kenapa?, Pertanyaan-pertanyaan yang selalu saja muncul ketika mendengar kabar meninggalnya Teman, Rekan, Sahabat ataupun anggota keluarga. Seringkali kita memandang kematian seseorang dengan mengkaitkannya dengan cara hidup/ perilaku semasa hidup, kesalahan-kesalahan yang dibuat, bahkan tidak jarang diantara kita mengkaitkannya dengan hal-hal magis/mistis.
Tulisan ini dibuat berdasarkan permintaan dari sang kerabat. Beranjak dari pengalaman pelayanan di jemaat-jemaat kristen di perkampungan. Cara memandang setiap orang tentu berbeda entah hanya sekedar ingin tahu ataukah ingin tahu banget/kepo. Kematian yang dialami tentunya dikarenakan oleh beberapa faktor berdasarkan dari sudut pandang mana yang kita pakai untuk melihat dan menilainya.
Sosiologis
Masyarakat tentunya dalam menjalin relasi sebagai manusia secara pribadi dan masyarakat dalam komunitas atau kelompok masyarakat dan adat, akan selalu menitik beratkan kematian pada individu yang meninggal itu. Baik dengan sesama, buruk perilaku terhadap sesama, pola hidup yang tidak teratur, dan lain-lain.
Seringkali ketika berdiri dan memandang wajah kaku tanpa ekspresi di dalam kotak/peti mati, akan menimbulkan segala ingatan dimasa lalu ketika kita berelasi dengannya. Ada penilaian yang secara gamblang diutarakan bersama beberapa orang, namun ada pula yang memendam rasa itu di dalam hatinya. Misal: “padahal dia itu paleng baik sekali”, “dia itu paling suka tolong orang lebih dari sudaranya sendiri” dll. Ada pula penilaian sinis yang dicakapkan secara tersembunyi, seperti “argh,, itu akibat dari kelakuan tidak baik”, “itu suka pelit dengan saudara sendiri”.
Penilaian yang beragam akan keluar dari mulut semua orang yang datang melayat. Namun tidak dapat pungkiri jika saat kematian memanggil seseorang, lebih banyak kebaikan yang diingat dibandingkan keburukan, entah ini bentuk simpati ataukah hal lain. Namun kenyataannya penilaian kepada individu tertentu ketika hidup berelasi, akan buntut pada penilaian negative dan positive akan muncul ketika kematian merenggut kehidupan.
Pengalaman berharga yang pernah kita alami yakni ketika kita ada diantara kelompok melayat dan kelompok yang berduka. Ketika anggota keluarga entah Ibu, Ayah, kakak atau adik atau keluarga jauh. Seringkali orang-orang yang melayat mengkaitkan kematian seseorang dengan hal mistis ketika menurut mereka terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam proses kematiannya.
“Padahal kemarin saya sedang berbicara dengannya”, “Kemarin ada kelihatan dia sehat-sehat saja” “Meninggal kenapa?, Sio, kemarin itu kita janjian untuk pergi kesini dan kesitu. Mungkin janji untuk bikin ini dan itu tidak ditepati” dst. Pemikiran primitif dan kaitan dengan hal magis pun supranatural terkadanv dikaitkan bila dalam pengalaman hidup seseorang terlintas ingatan bahwa ada janji yang tidak ditepati secara adatis, secara sumpah dan hal magis lainnya.
Konstruksi berpikir masyarakat yang masih terpaku pada hal gaib tidak dapat disalahkan, karena kehidupan masyarakat sesungguhnya berawal dari tatanan kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai adatis sebagai masyarakat adat. Berbeda dengan pola berpikir masyarakat metropolitan, yang lahir, besar bahkan ditunjang oleh pemikiran-pemikiran logis.
Sebagai umat beragama yang dilatarbelakangi oleh pendidikan yang cukup mapan, tentunya cara berpikir primitif perlu ditransformasikan dengan cara berpikir logis dan agamis. Persoalan sosiologis jika dibiarkan begitu saja berkembang maka tentu akan lahir dan berkembang suatu tatanan kehidupan yang mengiyakan kehadiran dan kebesaran sosok transenden lainnya yang disebut Okultisme.
Teologis
Sudah seharusnya kematian dimaknai sebagai waktu Tuhan. Sebuah kenyataan hidup bahwa manusia memiliki batas waktu dalam menjalani kehidupan. Ada waktu untuk menangis, ada pula waktu untuk tertawa, ada kelahiran, pula ada kematian. Manusia adalah ciptaan yang fana sama seperti ciptaan lainnya. Manusia telah meninggalkan kekekalannya sejak manusia pertama dijadikan dan melanggar ketentuan hidup yang telah diperintahkan oleh penciptanya.
Pengkhotbah pasal 3 menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di bawah langit dan di atas bumi ada masanya. Jika metusalah dianugerahkan usia tertua yakni sembilan ratusan, maka pemazmur berkata hidup manusia kini berbatas tujuh puluh tahun sebab itu anugerah Allah pencipta. Lebih dari itu adalah kesukaran dan penderitaan secara fisik pun secara timbal balik dari orang-orang yang ada disekitar kita.
Pengalaman pelayanan ketika berjumpa dengan komunitas yang berduka memberikan sebuah pola pikir yang baru bagi kita. Sebut saja NT (Inisial nama orang tua), beliau mengusulkan menambahkan ornamen lainnya dalam sistematika liturgi pelayanan pemakaman saudarinya yakni pemotongan tali. Pemotongan tali ini dimaksudkan sebagai permohonan agar kiranya kematian aneh seperti yang dialami saudara/nya berakhir sampai disitu (Melihat kejadian tersebut memang ada keganjalan ketika ketiga saudara/inya meninggal dengan penyakit yang hampir sama modelnya).
Konstruksi masyarakat adat yang kait-mengkaitkan kuasa Allah dan Kuasa Alam membuat semuanya menjadi runyam dan sulit untuk dimengerti oleh masyarakat awam. Sudah tentu pasti masyarakat awam akan berpikir jauh menuju hal-hal yang diluar kendali Allah Pencipta. Namun, pola berpikir tersebut cukup ampuh untuk membuat takut masyarakat adat tertentu dalam kaitan perubahan perilaku hidup, namun bagaimana jika itu hanya sementara?.
Kata GrJ. Y. G, (Seorang Guru Jemaat) apalah arti hidup jika kita tidak beribadah kepada Tuhan? Terkadang kematian yang datang menyakiti hati orang-orang yang tidak pernah menginjakan kaki di rumah Tuhan (Gereja) pun juga orang-orang yang rajin beribadah. Kenyataannya kematian bukanlah diberikan bagi orang-orang tertentu yang baik atau buruk kehidupannya, melainkan kematian dapat menjumpai siapapun yang dikehendaki terjadi kematian atas dirinya oleh sang pencipta.
Berulang kali mencoba bunuh diri pun belum tentu dijemput oleh kematian itu. Meminum racun berulang kali pun jika belum waktu Tuhan untuk memanggil, sudah pasti akan terselamatkan lewat bantuan tangan malaikat-malaikat tak bersayap. Dibunuh atau kecelakaam di jalan pun belum tentu mati jika belum waktu Tuhan. Sebab Tuhan punya cara tertentu untuk memanggil kita sebagai manusia ciptaannya.
Kecil, besar, tua, muda, sakit, sehat, laki-laki, perempuan, semuanya ada waktu Tuhan untuk mempertemukan kita dengan kematian. Jika kematian adalah hal mistis, untuk apakah ada doa-doa sebelum disemayamkan? Jika kematian adalah hal mistis, untuk apakah menancapkan salib di pusara sana? Kematian adalah kehendak Allah pencipta.
Bertemu dengan kematian bukan lagi persoalan mistis ataupun supra natural, melainkan kehendak Allah. Komunitas atau kelompok yang berduka membutuhkan pendampingan spiritual yakni pastoral kedukaan, sebagai kekuatan dan penghiburan sebagai bentuk kehadiran Allah lewat CiptaanNya, bukan dengan pertanyaan sakit apa, meninggal kenapa dan lain sebagainya. Kematian adalah waktu Tuhan.

Iman, Tetap Percaya meski dalam Badai

screenshot_2019-04-26-06-32-23-033802711325994240538.pngKaka, Menurut kaka Iman itu apa? (Pertanyaan lewat messengger FB). Hehehehe, Pertanyaan ini sungguh menggelitik dihati, saat membaca pertanyaan ini dari seorang mahasiswa 😅. Sorry ya, tdk bermaksud menyinggung individu tertentu atau menyombongkan diri.

Jika mengikuti padanan kata, Iman itu sama dengan keyakinan/ Kepercayaan teguh terhadap kehadiran/ campur tangan bahkan janji dari sosok yang transedental/Ilah/ Ilahi/ Allah/ Tuhan/ Kristus (dalam Ke-kristenan).

Dalam Alkitab (PL) bdk. Dengan kisah dari sosok Abraham (Keimanannya terhadap Allah sehingga dia dijuluki sebagai Bapak segala orang beriman).

(PB) bdk. Pengajaran Yesus, pengalaman Rasul² murid Yesus dan Paulus.
Iman yang diajarkan Yesus bagi murid² saya ambil sebagai contoh, soal “Iman sebesar biji sesawi” mampu memindahkan gunung dan mengeringkan air di laut, ada kemungkinan yang Yesus maksudkan adalah kekuatan besar dari yang disebut Iman itu adalah bentuk fisik maupun non fisik dari karya penyertaan Allah bagi Individu yg hendak dipakaiNya. kesimpulannya, iman adalah Keyakinan teguh terhadap Allah yang nyata lewat karya penyertaanNya.

Paulus menjelaskan iman dengan pemahaman Intelektual berdasarkan pengalaman spiritualnya, “Iman adalah nafas hidup setiap orang yang percaya” karena dia tidak hidup dengan Yesus namun dia dipilih, kemudian dirubah/dibaharui oleh Yesus dan menjalankan pengajaran Misi Kristus dalam seluruh hidup dan kehidupannya.

Dia (Paulus) saat itu bisa saja mati di depan pintu damsyik jika kita mengingat akan perbuatannya kepada semua orang percaya saat itu, namun karna dia mengikuti perintah Yesus, dia sembuh kemudian dia jalankan misi yang diamanatkan padanya.

Buat saya, Iman itu “tetap percaya meski dalam badai”, karna Iman akan lebih cepat terespon disaat kita ada atau sementara dalam penderitaan. Dalam keadaan senang, kita jarang beriman karena pemikiran rasionalitas yg ada dalam isi kepala kita.

Disaat susah, lapar, sedih, kecewa oleh kegagalan, saat kita berserah hanya pada sosok Allah dalam Kristus, Iman “dalam Harap dan Pasrah pada sosok Kristus” mampu menjawab tuntutan kebutuhan batin kita, kadang jasmani juga disaat jawaban Ilahi itu menyata dalam hidup kita (Dialami oleh Indera).

Saya pahami Iman itu Sebagai tindakan “Tetap percaya meski dalam Badai” (Istilah yang pernah dipakai Oleh Usi. Shemaelria Aponno).

NB: Masing² orang punya pemahaman yang berbeda tentang Iman berdasarkan pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan yang nyata dalam karyanya dalam hidup tiap Individu.

Tetaplah percaya, karena janji dan penyertaan Tuhan itu nyata. Dia takkan mengingkari janjiNya.

Bunga Matahari dan Bunga Jam 9

Beberapa bulan yang lalu sempat digegerkan dengan banyaknya postingan Bunga matahari, banyak sekali orang yang berfoto disana untuk mewarnai Profil Pict dan laman sampul Facebooknya.

Banyak kata-kata mutiara dan motivasi menari dengan indahnya di beranda pengguna sosial media berdampingan dengan gambar bunga matahari, tak hanya sebatas itu prewed picture beberapa pasangan bahagia pun sempat berminat menjadi model disana.

Kini bunga-bunga itu telah layu kering dipapar matahari yang sesungguhnya 😅, cahaya sun flower di talaga kodok sudah meredup. Entah karena tangan-tangan jahil kah, ataukah memang sudah waktunya? Kata sang Pengkhotbah, “segala sesuatu ada waktunya, segala sesuatu di bawah matahari dan di atas bumi ada waktunya”, ya… Cahayanya terbatas sampai di musim lama waktu ia harus berhenti bersemi.

Kering dan layunya sun flower di talaga kodok itu tentu tidak menjadi titik pudar cahaya kehidupan, karena matahari sesungguhnya masih bersinar, dan penananmnya pasti tak akan berhenti dengan cahaya itu. Talaga kodok saat itu naik daun (Name Up), meski kini tidak ada nama dengan bunga terbaru, Talaga Kodok tetap hebat menurut saya.

Dari jazirah leihitu bagian Maluku Tengah, kini beralih ke Negeri Passo. Kini ada bunga Jam 9 🤔, entah namanya apa, yang jelas saya mengenalnya demikian karena sejak lama saya dikenalkan dengannya konon katanya setiap jam 9 pagi, semua kuncup bunganya mekar.

Diambil dari Postingan salah satu rekan Amgpm Bethesda, yakni Ledy Frisca Tuwatanassy Parera, Bunga jam 9 itu bermekaran di halamannya. Kolaborasi warna indah menawan setara indahnya Pelangi sehabis hujan, bunga-bunga itu memberikan makna tersendiri dipagi hari.

Bayangkan saja di sela-sela waktu sibuk dengan rutinitas kerja, tiba-tiba mendapat senyuman indah berseri-seri yang tanpa kata menyegarkan mata dan hati.
“Bunga saja bisa senyum untuk sambut pagi kita, mengapa kita tidak?” 😜✌️

Tersenyumlah hay pembaca, besok-besok bikin kebun bunga biar selalu merasa fresh karena bunga itu akan selalu tersenyum untukmu 🙏. Ingatlah siapa penciptanya, dan naikkanlah doa dan syukur bagi Dia.

Alkitab menolak pernikahan sejenis

Simbol bagi laki-laki dalam bahasa Ibrani adalah aksara: ז – Zayin.

Kita menemukan kata-kata Ibrani: זָכָר – ZAKHAR (laki2); זֶרַע – ZERA (benih); זַן – ZAN (bahan pangan); זוּן – ZUN (memberi nafkah); זִכָּרוֹן – ZIKARON (memory, berhubungan dg. surename).
Semua kata-kata tsb. terhubung dengan ide-ide maskulin/ kejantanan.

Lalu apa simbol bagi perempuan dalam aksara Ibrani? Simbol Aksara Ibrani bagi perempuan adalah aksara ג – Gimel. Bentuk participle dari גָּמַל – GAMAL adalah גוֹמְל – GOMEL, artinya: memberi, giving, to repay, to reward. Yang dasarnya dalah dari pemahaman, dimana seorang ibu memberikan kasih, nutrisi bagi sang bayi.
Verba Ibrani: גָּמַל – GAMAL, artinya: menyapih bayi, dan tentu kata ini berhubungan dengan ibu.

MARRIED COUPLE – PASANGAN SUAMI-ISTRI (LAKI-LAKI & PEREMPUAN):

Dalam bahasa Ibrani simbol aksara bagi laki-laki adalah: ז – Zayin.
Sedangkan simbol bagi perempuan adalah ג – Gimel.
Dan kata hubung “dan” dalam bahasa Ibrani menggunakan aksara ו – Vav, yang bentuknya mirip “kait/ hook”, sebab memang fungsinya adalah “menghubungkan”.

Perhatikan ketika ketiga aksara ז-ו-ג – Zayin-Vav-Gimel tsb digabungkan. Mereka terbentuk menjadi: זוּג – ZUG, itulah arti “married couple/ pasutri/ pasangan suami-istri” dalam bahasa Ibrani.
Dalam banyak hal, bahasa Ibrani sangat mirip dengan “Chemical Language,” bahwa simbol-simbol tertentu akan membentuk makna.

Karena Couple itu adalah זוּג – ZUG [bukan: זוּז – ZUZ juga bukan: גוּג – GUG]

Maka jelas bahwa, pernikahan LGBT bukan ide dari Alkitab.

PARADIGM SHIFT : Merefleksikan kriteria kebaharuan

Oleh Frans Henri laksmana (Grundelan Mbeling Peternak Wedhoz @Sanggar Tekoa)

Praksis hidup dan menghidupi kehidupan secara integral adalah pengejahwantahan dari sikap hormat terhadap keluhuran hidup itu sendiri. Pencarian sebentuk konstruksi metodologis, yang melaluinya kita dapat membangun refleksi kritis secara retrospektif atas apa yang sudah terkerjakan sebaik secara prospektif untuk mencari kemungkinan mengerjakannya secara lebih baru, unggul dan produktif, selalu membawa serta aspek kesinambungan dan ketidaksinambungan. Membangun pendekatan integral, dan karenanya berkaraktek holistik, tidak bisa tidak mensyaratkan perpisahan paripurna terhadap segala bentuk dikotomisme dan spirit polemik turunannya. Lalu, dalam platform integratif manakah substitusi bagi dikotomisme hendak dibenihkan, diuji kriteria kebaharuan dan kemampuan produktifnya dalam mengampu pendekatan integral atas kehidupan?

Nalar integratif tidak mengijinkan bahwa setiap “pembedaan” harus total dimengerti sebagai “pemisahan” yang saling menegasikan, melainkan aset dasar yang mempersatukan dan mempersekutukan. Aspek kesinambungan lebih tepat dipahami sebagai tanggung-jawab intelektual untuk “meneruskan proses berpikir kreatif” para teolog pendahulu kita dalam menjawabi persoalan jamannya, agar warisan paradigmatisnya dapat menjadi kontemporer di kekinian jaman; bukan sekedar “mengemas ulang produk akhir” yang sejatinya sudah memfosil sebagai koleksi museum sejarah peradaban intelek dan kemudian hanya akan menghasilkan wabah puritanisme-sektarian belaka!!!

Dalam ranah hermeneutik, aspek kebaharuan dapat dikerjakan melalui perbaikan mendasar atas berbagai asumsi lama, penambahan variabel baru, perluasan jangkauan metodologisnya, dan pengorganisasikan seluruh kompleksitas risetnya ke dalam sebentuk bangunan teoritis yang konsisten. Aspek produktif kemudian lebih menyangkut sikap keilmuan 𝘰𝘱𝘦𝘯-𝘮𝘪𝘯𝘥𝘦𝘥𝘯𝘦𝘴𝘴 tanpa prejudis dan keberanian menyeberangi batasan ideologis dan tradisi 𝘬𝘰𝘯𝘧𝘦𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 dalam bingkai kerja integratif untuk mencari kemungkinan solusi secara konsensual.

Ⅰ

Sejenak tersergap interpretasi sinematografis atas novel Bram Stoker, impuls imajinatif mendesak saya untuk terlebih dahulu mengintip kembali aksi sengit Gabriel van Helsing dalam menghabisi rajanya bani dikotomis, Count Dracula, yang memang hanya bisa hidup dan bekerja di atas pertentangan abadi-alienasi sempurna antara terang(-terbuka) versus gelap(-tertutup)! Sebuah miniatur drama 𝘊𝘩𝘢𝘰𝘴𝘬𝘢𝘮𝘱𝘧 seolah sedang mengguncang Transylvania, lengkap dengan balutan nuansa kosmiknya yang ditebalkan lewat gonjang-ganjing dari dunia infrahuman. Yang Ilahi hadir dan dihadirkan secara membisu dan karenanya simbolik; serentak dalam dua kutub bipolar: merangsek sebagai simbol teror dan teror simbol!!! Petualangan investigatif van Helsing menggiringnya untuk mengeksekusikan taktik jitu sesederhana dengan mendatangi Dracula langsung di pusat kultur mental dan materialnya. Dalam jungkir balik pertempuran kosmis dengan kharisma laksana tokoh 𝘋𝘪𝘷𝘪𝘯𝘦-𝘸𝘢𝘳𝘳𝘪𝘰𝘳, van Helsing menyudahi perlawanan Dracula dengan satu tikaman di jantung, di pusat detak-pijar kehidupannya. Sungguhkah hanya van Helsing penentu dan penyebaban tunggalnya? Intuisi interpretasi integratif mengatakan tidak. Dracula serempak mati terhimpit di tapal batas persinggungan siklus dunia natural, yaitu, manakala malam memeluk mesra sang fajar guna menyerahkan pedelegasian mandat kerja untuk menjaga “harmoni dan tertib kosmos”. Dracula menjadi 𝘴𝘱𝘢𝘤𝘦𝘭𝘦𝘴𝘴, sekarat tersudut karena kehilangan “panggung teror” sebelum kemudian terlumpuhkan oleh jilatan mentari di permulaan fajar. Seluruh elemen kosmis, baik human dan infrahuman, seolah menyatu-lebur untuk mengorkestrasikan perlawanan terhadap usaha “humanisasi atas dunia natural” serba dikotomis. Peristiwa kosmik inipun sekaligus menjadi presentasi senyap bahwa “naturalisasi atas dunia kemanusiaan” terhadap Dracula telah berhasil mengembalikan jatidiri hakikinya sebagai makhluk mortal. Sang malam pun dapat kembali produktif setelah terbebaskan dari kebengisan tatanan feodal Kastil Bran. Rakyat jelata tidak perlu lagi bersusah payah menjadi 𝘓𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘗𝘳𝘰𝘭𝘦𝘵𝘢𝘳 demi secuil roti. Mereka kini sudah mendapatkan kembali akses ke dalam sumber produksi, kembali kepada dunia kerja dan kegirangan malam. Pembebasan secara integratif telah menampakkan jati diri utuhnya secara kosmis, komunal, dan individual.

Meneruskan spiral “reinterpretasi imajinatif” dalam gerak regresif, meski tidak dapat dipastikan apakah Stoker mengenal atau tidak para sejarawan Deuteronomistis dan literatur epiknya, van Helsing seolah menapaki ulang jejak strategis tokoh Elia. Sayup-sayup 𝘵𝘰𝘶𝘳 𝘥’𝘛𝘳𝘢𝘯𝘴𝘺𝘭𝘷𝘢𝘯𝘪𝘢 menduplikasi ekspedisi solo Elia ke Sarfat, jantung peradaban mental dan kultural Baalisme. Unik bahwa tokoh Elia menghabisi Baal-Melkart sang dewa hujan-kesuburan justru tanpa secuil konflik tetapi cukup dengan “penihilan eksistensial” melalui kehadiran senyapnya di Sarfat. Layaknya motto petempur Gurkha: ia datang diam-diam, pergi tanpa bekas, tapi hasilnya jelas!!! Di pusat pemujaan ritus kesuburan, hujan tidak turun dan langit berhenti mengguntur. Sang dewa kesuburan kehilangan kuasa kosmiknya untuk menginisiasi persetubuhan dewa langit dan dewa bumi. Seberapapun banyak resital dan ritus imitatif cumbu rayu “bapa langit” dan “ibu bumi” dipentaskan, kosmos tetap memandulkan diri tiada bersedia mengejakulasikan hujan. Sabda profetis bekerja melintasbatasi lokalitas dan melampaui hingar-bingar ritus dan mantra. Jika musuh van Helsing mati secara auto pilot segera setelah kematian Dracalu, Elia sebagai “anak ideologis 𝘩𝘦𝘳𝘦𝘮” masih harus mudik ke Utara dan berjibaku dalam kontestasi di Karmel (2 Raj 18) demi mengimplementasikan sanksi religius pemusnahhabisan seluruh aparatus Baal. Episode Karmel implisit menandai “akhir daur hidup” pandangan dunia siklis, berbasis divinasi atas tatanan kosmis, yang mendudukkan kemanusiaan 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘢𝘭𝘢𝘮. Suatu peradaban religius yang tidak memiliki tempat bagi permenungan dialektis antara natur dan kultur – sekuler dan sakral. Semua adalah 𝘨𝘪𝘷𝘦𝘯 𝘳𝘦𝘢𝘭𝘵𝘺. Manusia terjerembab ke dalam fatalisme agama nasib. Setiap pembelahan dikotomis dalam tatanan sosial pun harus dihayati sebagai harmoni abadi. Tidak ada tempat bagi kritik dan koreksi, apalagi protes dan reformasi. Elit penguasa dan agamawan klerikal menjadi pihak yang paling diuntungkan dengan terciptanya stabilisitas di semua aras kehidupan. Penindasan secara alami menjadi langgeng karena bertumpang-tindih tepat dengan penghayatan harmoni ketat dalam pola relasi antara jelata dan penguasa, 𝘸𝘰𝘯𝘨 𝘯𝘥𝘦𝘴𝘰 dan 𝘱𝘳𝘪𝘺𝘢𝘺𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘢, kaum buruh dan majikan-pemodal, golongan awam dan imam.

Episode Karmel mendemonstrasikan betapa cinta dan puja bakti kepada Sang Hyang Yahweh sungguh menghanguskan Elia; terafirmasi secara simbolik dan menggentarkan melalui sambaran api kosmis ke atas mezbah korban. Elia mewadahi secara apik apa artinya 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘸𝘶𝘭𝘰-𝘎𝘶𝘴𝘵𝘪, ya, menggapai marifat guna menghidupi diri sebagai tawanan cinta Yang Ilahi. Elia menghadirkan kembali Sang Hyang Yahweh dalam identitas primitifNya sebagai Ilah badai: Sang Peluluh-lantak dari padang gurun di Selatan, Allah orang Ibrani pembela kaum 𝘓𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘗𝘳𝘰𝘭𝘦𝘵𝘢𝘳, Pemerdeka nasib wong cilik yang siap menggilas tirani dualistik peradaban religius Baalisme dengan tatanan sosio-politik serba feodal negara-kota di jazirah Kanaan. Sengat Yahwisme tradisional sebagai agama protes tervitalkan kembali. Kosmos dibersihkan dari manipulasi ritualistik dan dipersilahkan untuk meneruskan peziarahan evolusinya untuk mendukung kerja dan produksi sebagai proses transformasi kultural atas dunia natural itu sendiri. Episode Karmel menjadi awal remedial paradigmatis atas akar religius dari krisis sosial dalam episode Nabot (2 Raj 21).

Sejenak saya undur untuk menapaktilasi gambaran akan Sang Hyang Yahweh sebagai 𝘤𝘢𝘶𝘴𝘢 𝘶𝘭𝘵𝘪𝘮𝘢 atas seluruh proses mengadanya elemen kesuburan dan penyebaban awal atas seluruh aktifitas kerja dan produksi dalam tradisi tua Yahwistik (Kej 2). Visi Edenik mencatat secara tebal bahwa sikap kritis, sebagai valuasi dan koreksi, sudah setua umur penciptaan, diinstitusikan dan berakar secara fundamental di dalam pribadi dan karya Sang Pencipta itu sendiri. Ia hadir di tengah tatanan ciptaan dengan memilih untuk mengorbitkan diri dalam galaxy 𝘬𝘦𝘯𝘰𝘵𝘪𝘴: mengosongkan diri dari paham “Tuhan kekuasaan” (dan semua atribut serba maha) dan bergerak dalam kerangka kerja “Tuhan kebaikan” secara konsisten. Ia menginisiasikan sikap kritis di fajar peradaban melalui evaluasi-otokritik yang dihujamkan ke dalam tindakanNya sendiri ketika mencipta kemanusiaan. “Tidak baik, jika manusia itu seorang diri saja” (Kej 2:18) menjadi “yang sulung dari semua bentuk kritisisme”. Yang Ilahi seakan meletakkan struktur dasar keilmuan, mengawali dengan obervasi-klasifikasi, menetapkan dan mengkoreksi hipotesa kerja, dan memuncakinya dengan praksis transformatoris. Ia sungguh mengerjakan 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘥𝘪𝘨𝘮 𝘴𝘩𝘪𝘧𝘵, bukan demi kesasihan teoritis, tetapi semata demi cinta tanpa syaratNya untuk selalu mengutuhkan kosmos. Sang Hyang Yahweh menjadi Allah yang sangat responsif terhadap dunia dan kemanusiaan, menolak untuk berhenti berproses demi kemaslahatan ciptaan, dan memimpin kosmos dalam bingkai kerendahan hati dimana kritik dan koreksi bahkan “pertobatan dan perubahan strategi” tidak pernah menjadi tabu untuk dikerjakanNya.

Ketika Yang Ilahi menjadi fundamental bagi setiap “𝘤𝘳𝘪𝘵𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘦𝘯𝘵𝘦𝘳𝘱𝘳𝘪𝘴𝘦”, maka setiap generasi berkewajiban untuk menjawabi krisis peradaban di jamannya secara kritis dan konstruktif, baru dan produktif, 𝘤𝘶𝘴𝘵𝘰𝘮𝘪𝘻𝘦𝘥 dan kontekstual. Dalam semangat inilah tradisi Priester menjadi lawan-padanan bagi tradisi Yahwist ketika merefleksikan obyek kajian yang sama: kosmogoni dan anthropogoni. Berbenturan dengan peradaban religius yang menenggelamkan kemanusiaan di bawah alam serta memikul beban sosial-politik sebagai tawanan tanpa harkat dan martabat kemanusiaan di Babilonia, para Priester memopakan “gairah juang dan penaklukan” secara optimistik melalui 𝘥𝘰𝘮𝘪𝘯𝘪𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘳𝘢𝘦. 𝘒𝘩𝘢𝘰𝘴 telah ditaklukkan dan dipinggirkan, kosmos raya menjadi bersih-suci karena terbebaskan dari segala bentuk tahayul, dan tengah mengada sebagai universum hijau yang ramah bagi kemanusiaan. Allah memvaluasinya sebagai baik dan memberkatinya, berjalan mendahului kesadaran insani dalam mengartikan kebaikan dan keberkahan, dan karenanya bersifat teo-kosmosentris. Sabda berkah memanifestasikan Tuhan kebaikan pada tempat pertama, menjadi ragi yang mengkhamiri seluruh semesta, dan mengintegrasikan perjalanan sejarah alam dan sejarah kemanusiaan untuk mendapatkan pemuncakannya 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 Allah sendiri. Mengejahwantahkan 𝘥𝘰𝘮𝘪𝘯𝘪𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘳𝘢𝘦 dalam harmoni dengan sabda berkah adalah mengkarakterisasi proses humanisasi atas dunia natural dengan watak integratif: membangun solidaritas dan bukan rivalitas, intimasi dan bukan alienasi, partisipasi dan bukan dominasi, eksplorasi dalam sikap hormat terhadap sakralitas hidupnya dan bukan eksploitasi profanistik terhadap impersonalitasnya sebagai komoditas, baik dengan sesamanya manusia maupun dengan sesama ciptaan.

Orisinalitas dua raksasa Pentateukh tersebut terbentang tidak saja dalam “visi integralnya terhadap kehidupan” tetapi juga di dalam keberanian produktifnya untuk memberikan jawaban berbeda atas dasar keyakinan yang sama i.e “kemanusiaan bersama alam”. Spiral kreatif interpretasi dan reinterpretasi bahkan berkembang secara internal di jaman terkemudian di dalam bangunan intelektual mazab Priester itu sendiri. 𝘏𝘰𝘭𝘪𝘯𝘦𝘴𝘴 𝘚𝘤𝘩𝘰𝘰𝘭 (Im 17-26) menyerap dengan baik enerji kritik profetis dengan memvisikan reformasi agraria melalui regulasi Tahun Sabat dan Tahun Yobel (Im 25). Akar krisis sosial dari episode Nabot berusaha dijawabi secara institusional sekaligus menjadi komplementer bagi reformasi Deuteronomis di jaman Yosia. Reinstitusionalisasi Paskah (2 Raj 23:21-23) sebagai peringatan pembebasan dari perbudakan Mesir jelas membawa implikasi mendalam bagi reformasi di bidang perburuhan. 𝘏𝘰𝘭𝘪𝘯𝘦𝘴𝘴 𝘚𝘤𝘩𝘰𝘰𝘭 dengan tetap setia kepada matriks ideologis tradisi Priester, yang menulangpunggungi reformasi terdahulu di jaman Hizkia, berusaha memindahluaskan orientasi peribadatan secara horisontal ke dalam ruang sosial (dengan implikasi kosmologikal). 𝘏𝘰𝘭𝘪𝘯𝘦𝘴𝘴 𝘚𝘤𝘩𝘰𝘰𝘭 secara tidak langsung mengafirmasi ulang vitalitas teologi kerja dalam tradisi Yahwist. Indentitas kehambaan manusia, terutama dalam fitrahnya sebagai 𝘩𝘰𝘮𝘰 𝘧𝘢𝘣𝘦𝘳 yang berakar di dalam kesadaran akan “vokasi inifinitif-tanpa batas temporal” dari akar verbal ’bd (Kej 2:15), berusaha dipadupadankan secara integratif dengan etosnya sendiri. Panggilan manusia adalah serempak mengada sebagai ’𝘦𝘣𝘦𝘥 𝘠𝘢𝘩𝘸𝘦𝘩 dan ’𝘦𝘣𝘦𝘥 ’𝘢𝘥𝘢𝘮𝘢𝘩, melalui kerja sebagai ibadah di ruang sakral dan kerja sebagai ’𝘢𝘣𝘰𝘥𝘢𝘩 di ruang profan. Implementasi etos kehambaan ke dalam ruang sosial, dari konteks universal bumi ke dalam konteks partikular tanah terjanji, secara fungsional menjadi sintesis kecil antara tradisi Priester dan Yahwist. Tahun Sabath dan Yobel menjadi imperativ bagi kemanusiaan untuk sejenak berhenti dan mengambil jarak kritis, demi memerdekakan diri dari hegemoni hukum produksi berbasis “nilai guna dari nalar sebab-akibat dan hukum tabur-tuai”. Kaum marjinal dibebaskan dari segala bentuk perbudakan, dikembalikan haknya untuk mengakes sumber produksi, bahkan memetik dari apa yang tidak mereka tabur. Bumi dan seluruh isinya pun dapat memulihkan daya kesuburannya untuk menunjang masa depan kehidupan sekaligus merdeka untuk merayakan hidup dan martabat sakralnya sebagai persona. Tahun Sabath dan Yobel menjadi pesta kehidupan: merayakan pembebasan bagi seluruh ciptaan yang merestorasikan keadilan di dalam ruang personal, komunal, dan kosmologikal!!!

Di ujung horison penerawangan teleskopik, hermeneutika integratif dapat mempersaksikan kehangatan dialog imajiner antara Tielhard de Chardin dan Alfred North Whitehead yang sedang bertukar piagam manifesto: Evolusi Teleologis dan Pan-en-theisme. Sebuah kolaborasi antara paleontolog dan filsuf proses untuk meremitologisasikan gairah mitologis manusia purba dan semua gagasan utopisnya tentang ideal kemanusiaan dan kosmos agar dapat mensejarah menjadi nilai yang mengkhamiri peradaban modern, yang juga tidak kalah masifnya dalam hal memproduksi mitos. Hermeneutika integratif hendak mengambil peran tidak saja demi menjawabi tudingan Mircea Eliade, bahwa Kekristenan sudah kehilangan vitalitas dimensi kosmisnya, tetapi demi memperjuangkan agar bumi dapat dikembalikan marwahnya sebagai 𝘰𝘪𝘬𝘰𝘴; menjadi rumah tangga bersama yang penuh kedamaian bagi seluruh ciptaan, bagi kemanusiaan dan agama-agama pemeluknya.

II

Pengalaman dalam tataran 𝘩𝘪𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺, terutama perjumpaan dengan Yang Ilahi, selalu berjalan mendahului pelaporan dalam tataran 𝘨𝘦𝘴𝘤𝘩𝘪𝘤𝘩𝘵𝘦. Ia menawan dan melampaui batas kesadaran manusia dan semua kebutuhan untuk menatanya melalui pemilahan sadar berdasarkan kriteria linguistik subyek dan obyek, entah secara hirarkis (subyek atas obyek) atau secara dialogis (korelasi inter-subyektif). Sampai sejauh ini tampak bahwa “𝘴𝘦𝘯𝘴𝘦 𝘰𝘧 𝘥𝘪𝘢𝘤𝘩𝘳𝘰𝘯𝘪𝘤 𝘢𝘸𝘢𝘳𝘦𝘯𝘦𝘴𝘴” mengendap dalam seluruh kesadaran manusia sebagai 𝘩𝘰𝘮𝘰 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘭𝘭𝘦𝘤𝘵𝘶𝘮, entah dalam 𝘱𝘭𝘢𝘵𝘧𝘰𝘳𝘮 alam pikir mitologis, ontologis, maupun fungsional, dan entah melalui medium fiksi sinematis, kearifan lokal, naskah historiografis, atau risalah religius-filosofis. Presentasi sinkronis, entah secara lisan atau tekstual, lebih tepat dimengerti sebagai “linguistikalisasi terkemudian” dari kesadaran terhadap pengalaman diakronis itu sendiri. Presentasi tekstual yang kemudian terwariskan sebagai 𝘴𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘶𝘳𝘦 bergerak secara primer dalam orbit “preservasi tradisi” agar generasi terkemudian dapat “terhubung secara paradigmatis” dengan pengalaman historis generasi terdahulu untuk kemudian mensejarahkan i.e. menafsirkan ulang dan meresponinya secara baru-berbeda dalam situasi kekinian masyarakat manusia dan komunitasnya sendiri. Reksa susastra di dalam Kitab Suci (khususnya Alkitab Ibrani), mulai dari “presentasi tekstual di konteks paling awal”, proses panjang reinterpretasi kreatif lintas generasi, hingga “fiksasi redaksionalnya di konteks paling akhir”, mendemonstrasikan secara jitu bagaimana 𝘪𝘯𝘯𝘦𝘳 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘦𝘹𝘦𝘨𝘦𝘴𝘪𝘴 menghasilkan “tenunan mozaik susastra” dan pandangan teologis-pendirian religius serba plural. Heterogenitas testimoni tekstual dan jejaring inter-relasi diakronisnya, baik antara teks awal (sumber tradisi) dan teks akhir (kanon) maupun antara komunitas awal sebagai “produsen teks” dan komunitas akhir sebagai “pengguna teks”, menghasilkan konsekuensi alamiah bahwa setiap analisis teks harus mendahulukan “pendekatan linguistik diakronis”. 𝘋𝘪𝘢𝘤𝘩𝘳𝘰𝘯𝘪𝘤 𝘭𝘦𝘢𝘥𝘴 𝘵𝘩𝘦 𝘸𝘢𝘺, 𝘢𝘴 𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘢𝘷𝘰𝘪𝘥𝘢𝘣𝘭𝘦 𝘯𝘦𝘤𝘦𝘴𝘴𝘦𝘵𝘺!!!

Penyelidikan historis kritis, yang ditunjang studi-studi diakronis yang bersifat deskriptif, genetis, fenomenologis, serta lintas ilmu, terhadap konteks paling awal dari dunia di balik teks sudah meletakkan kesadaran bahwa wibawa tradisi sakral adalah “wibawanya di dalam kehidupan”. Bobot normatifnya tidak tergantung kepada rumusan tekstualnya (yang masih terus berubah) tetapi di dalam fungsi kritisnya sebagai acuan normatif untuk menata dan mentransformasikan kehidupan masyarakat manusia di dalam konteks historis spesifik. Teks lebih merepresentasikan “linguistikalitas pengalaman iman”, sebagai hasil penafsiran kreatif atas dunia yang langsung dihidupi penulisnya. Horison penafsiran terus bergerak manakala teks mengalami penafsiran ulang di periode historis generasi terkemudian: menghasilkan baik perluasan perspektif susastra secara internal melalui revisi, suplementasi, atau penyatuleburan tradisi sebagai reintepretasi redaksional, maupun produk tekstual yang sama sekali baru sebagai lawan-padanan dari pena mazab religius yang berbeda.

Pun, presentasi diakronis Kitab Suci sebagai produk akhir dari proses redaksional panjang lebih menitikberatkan aspek “pencarian makna komunitas” yang sedang membangun kesadaran identitas kolektifnya sebagai “umat beriman”, yaitu, “pengguna-waris paling absah dan otoritatif”, dan bukan pada aspek “pencarian makna teks” semenjak teks-teks itu sendiri secara diakronis telah praktis beroperasi menjadi 𝘴𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘶𝘳𝘢 sedari konteks historisnya paling awal. Kedudukan umat beriman dalam konteks redaksi akhir kurang tepat jika dipahami sebagai “pengkanon 𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘤𝘩” karena mereka secara fungsional sebatas “mengerjakan ratifikasi operatif” atas teks-teks yang secara diakronis sudah mensejarah sebagai scriptura dan karenanya “memiliki bobot kanonik secara inheren dan organik”. Jelas, apa yang secara hermenutik dirumuskan P. Stuhlmacher sebagai “𝘴𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘶𝘳𝘦 𝘸𝘪𝘵𝘩𝘪𝘯 𝘚𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘶𝘳𝘦” lebih memprioritaskan “fungsi kanonik secara diakronis” dibandingkan “status kanonik secara sinkronis”. Pemahaman fungsional menjadi lebih produktif tanpa tendensi reduksionistik dibandingkan pemahaman ontologis atas “dalil pewahyuan” yang menghasilkan dikotomi kusut: “Alkitab adalah Firman Allah” versus “di dalam Alkitab ada Firman Allah”. Sebaliknya, dengan memahami desain arsitektual Kitab Suci sebagai “kumpulan refleksi tentang pewahyuan” yang bersifat 𝘰𝘱𝘦𝘯-𝘦𝘯𝘥𝘦𝘥, kita justru dapat mengerjakan sebentuk teologi biblis secara diakronis sebagai “𝘯𝘦𝘷𝘦𝘳-𝘦𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘭𝘶𝘳𝘢𝘭𝘪𝘴𝘵𝘪𝘤 𝘦𝘯𝘵𝘦𝘳𝘱𝘳𝘪𝘴𝘦” guna membangun dialektika kritis dengan konteks kekinian jaman pluralis yang terus berubah.

Pembacaan dengan pendekatan linguistik sinkronis tidak hendak dinafikan atau disangkali kontribusinya dalam konstruksi teologi biblis tetapi sejauh dikerjakan secara integratif. Salah satu miniatur pembacaan sinkronis, melalui lensa baru kritik retorik, yang berpotensi untuk dikerjakan secara integratif adalah penempatan tema penciptaan sebagai 𝘭𝘰𝘤𝘶𝘴 𝘵𝘩𝘦𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘤𝘶𝘴 Alkitab secara menyeluruh. Alkitab sebagai kanon dibuka dengan penciptaan dan ditutup dengan penciptaan. Kosmosentrisme mendapatkan vitalitasnya kembali setelah tema penciptaan terlalu lama disubordinasikan di bawah kepentingan tema penebusan dalam skema teologi sejarah keselamatan dengan pembacaan yang sangat anthroposentris. Pun, seabad jauh sebelum kritisisme struktural dan retorik muncul, Hermann Gunkel melalui ilmu sejarah agama telah berhasil menunjukkan motif pertempuran melawan khaos (𝘊𝘩𝘢𝘰𝘴𝘬𝘢𝘮𝘱𝘧) sebagai landasan skematik tema penciptaan; yang merentang dari permulaan waktu mitikal-primordial di Kitab Kejadian hingga akhir waktu 𝘦𝘴𝘤𝘩𝘢𝘵𝘰𝘯 di Kitab Wahyu. Claus Westermann kemudian merinci detail eksegetikalnya dalam Kej 1-11 dimana tema penciptaan bergerak dalam spiral paradigmatis 𝘤𝘳𝘦𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯 – 𝘤𝘩𝘢𝘰𝘴 – 𝘳𝘦𝘤𝘳𝘦𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯. Hasilnya tidak saja dapat menseimbangutuhkan kembali antar hubungan Kitab Kejadian dan Keluaran tanpa mengabaikan prioritas historisnya tetapi juga antar hubungan blok Kej 1-11 dengan Kej 12-36 dan Kej 37-50. Tema penciptaan tidak lagi 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 (subordinasi) tetapi 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘫𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 (koordinasi) tema penebusan dengan implikasi tamatnya pembacaan dikotomis antara natur versus kultur yang diorbitkan dalam pemahaman sejarah sebagai garis lurus. Alternatifnya adalah spiral hermeneutik sebagai “gerak involutif” yang mewadahi secara dinamis baik aspek siklis perputaran sejarah dunia natural maupun aspek linearitas melajunya sejarah dunia kemanusiaan. Seluruh kosmos mensejarah dalam imperfeksi penciptaan di awal waktu menuju perfeksi finalitasnya dalam penciptaan ulang di akhir waktu. Perluasan spiral involutif dalam terhadap tiga simpul tradisi kovenan (Nuh-Abraham-Musa) juga menghasilkan pembacaan holistik dengan perspektif integral terhadap kehidupan. Shalom kovenan adalah keselamatan bagi kosmos (Nuh), bagi individu (Abraham) dan komunitas (Musa). Jikapun setiap kovenen tersebut hendak dibaca secara terisolasi dalam konteks historis sumber tradisinya, hasilnya tetap tidak pernah menjadi fragmentasi. Bahkan dalam karakter paling individualistik sekalipun, shalom kovenan Abraham bergerak menjangkau aras komunal (𝘮𝘪𝘴𝘱𝘢𝘩𝘰𝘵) dan aras kosmologikal (ujung bumi). Perbedaan presentasi antar tradisi lebih kepada prioritas logis dan penekanan, dengan tetap saling mengandaikan. Hal ini secara konsisten mewarnai dan terketam dalam alam pikir tradisi Yahwist, Priester, 𝘏𝘰𝘭𝘪𝘯𝘦𝘴𝘴 𝘚𝘤𝘩𝘰𝘰𝘭 dan mazab intelektual lainnya dalam Alkitab Ibrani.

Jelas sekali bahwa pendekatan integral atas kehidupan adalah ciri laten pandangan dunia manusia Ibrani Kuno yang langsung dihidupi sebagai nilai dalam peziarahan historisnya; bukan pertama-tama hasil ekstraksi teoritis melalui kaidah 𝘭𝘪𝘯𝘨𝘶𝘪𝘴𝘵𝘪𝘤 𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 tertentu. Tetapi justru di sinilah letak kekuatan pendekatan linguistik sinkronis dalam kemampuannya mengerjakan pembacaan secara lebih holistik sekaligus mengatasi kecenderungan fragementasi atomis akibat penekanan berlebihan kritisisme historis terhadap konteks 𝘱𝘳𝘦𝘵𝘦𝘹𝘵. Idealnya adalah: mengerjakan sebentuk “structural and rethorical recovery” secara berkesinambungan dari konteks kehidupan 𝘵𝘦𝘹𝘵 dengan 𝘱𝘳𝘦𝘵𝘦𝘹𝘵 hingga konteks pergaulan 𝘵𝘦𝘹𝘵 dengan 𝘵𝘦𝘹𝘵, secara internal dalam bangunan susatranya sendiri maupun secara eksternal dalam kanon maupun antar kanon. Bahasa sinkronis memiliki kehandalan logika artistiknya tersendiri dalam mempadupadankan penalaran posivistik dan intuisi 𝘮𝘺𝘵𝘩𝘰𝘱𝘰𝘦𝘵𝘪𝘤, untuk menziarahi warisan peradaban masa lampau dan mengimajinasikan prospek pengharapan masa depan, sebelum kemudian menariktenggelamkan keduanya ke dalam situasi pengalaman masa kini sehingga seluruh pembicaraan tekstual tentang Pencipta dan ciptaan dapat dimengerti sebagai peristiwa, bukan sekedar tumpukan data. Polemik metodologis antara pendekatan linguistik diakronis atau sinkronis menjadi kurang relevan lagi sejauh bisa dikerjakan secara integratif berdasarkan prioritas logisnya, yaitu, analisis diakronis dengan presentasi sinkronis dalam kesesuaian dengan kewenangan metodologisnya masing-masing. Wibawa presentasi linguistik sinkronis terbentang dalam secara internal dalam kesanggupannya untuk mengafirmasi ulang “historisitas wibawa teks dalam kehidupan” untuk divitalkan relevansinya di masa kini, bukan secara eksternal akibat kepatuhan metodologisnya terhadap teori linguistik Levi-Straus, Riceour, atau Gadamer maupun akibat penundukan dirinya terhadap rumusan dogmatik tertentu.

Jadi, resiko pendekatan linguitik sinkronis untuk menghasilkan ketimpangan baru pun sama besarnya, utamanya, ketika teks dibatasi pembacaannya sebagai “korpus singular dalam sirkuit tertutup”. Selesainya proses redaksi final tidak dapat secara mekanik dijadikan rujukan bagi status otoritatif-kanonik suatu teks, apalagi jika pemaknaanya dibatasi dari kebutuhan umat beriman di periode redaktur akhir. Resikonya bukan fragmentasi, tetapi alienasi. Makna teks mengalami lompatan kualitatif, menjadi tercabut dari komprehensitas pertalian hidupnya dengan dunia 𝘱𝘳𝘦𝘵𝘦𝘹𝘵, terasing dari “kriteria kebenaran dan kategori berpikir” spesifik dari peradaban religius yang dahulu melahirkannya, dan terdistorsikan keapaadaan vitalitas makna historis-konkretnya di konteks awal. Contoh paling sederhana adalah terjemahan LXX/Septuaginta atas naskah Kitab Daniel. Desain susastra Kitab Daniel secara unik (1) terdiri dari dua bahasa, Ibrani dan Aramaik, yang dijajarkan dalam tiga rangkaian: Ibrani (Dan 1:1-2:4a), Aramaik (Dan 2:4b-7:28), dan Ibrani (Dan 8:1-12:13), (2) melintasbatasi dua blok komposisi yang berbeda jenis sastranya: narasi (1-6) dan penglihatan (7-12), dan (3) menggunakan struktur 𝘤𝘩𝘪𝘢𝘴𝘮𝘶𝘴 kembar berkarakter 𝘥𝘪𝘤𝘩𝘳𝘰𝘮𝘢𝘵𝘪𝘤 naratif dan puitik. Pasal 1:1-2:4b adalah terjemahan Ibrani dari naskah Aramaik yang berfungsi sebagai pengantar bagi seluruh kitab. Pasal 7 menjalan fungsi rangkap sebagai penanda akhir bagi 𝘤𝘩𝘪𝘢𝘴𝘮𝘶𝘴 pertama, sebagai simetri naratif (persandingan 2 dan 7, 3 dan 6, 4 dan 5) dan sekaligus permulaan bagi 𝘤𝘩𝘪𝘢𝘴𝘮𝘶𝘴 kedua yaitu amplifikasi-padanannya, sebagai simetri puitik (persandingan 7 dan 12, 8 dan 11, 9 dan 10). Berdasarkan pararelisme 𝘤𝘩𝘪𝘢𝘴𝘮𝘶𝘴 tersebut, Kitab Daniel tidak memungkinkan untuk dibaca secara linear, urutan kronologis, atau rangkaian sinematis tetapi melompat sesuai persandingan pasangannya. Lepas dari persoalan bahwa setiap penterjemahan dalam dirinya sendiri sudah merupakan penafsiran, baik secara internal di dalam perkembangan komposisi Kitab Daniel maupun secara eksternal di dalam prosedur susastra LXX, paling fatal adalah manakala LXX menyisipkan material tambahan, yaitu bahan apokrifa-deutero kanonik (satu pasal tentang Suzana dan para tetua ditempatkan sebagai prolog mendahului Dan 1:1, sisipan 66 ayat doa Azaziel di antara Dan 3:23 dan 3:24, serta epilog tentang Bel dan Naga yang dilekatkan sesudah Dan 12:13), ke dalam korpus proto kanonik Daniel bersamaan dengan proses penterjemahannya. Struktur 𝘤𝘩𝘪𝘢𝘴𝘮𝘶𝘴 menjadi hilang dan berganti seolah menjadi urutan kronologi historis sehingga merubah total profil susastra dan teologi Kitab Daniel; dan karenanya dapat dikategorikan sebagai terjemahan korup!!! Paling mematikan adalah kebijakan struktural LXX yang mencabut Kitab Daniel dari lingkungan pergaulan susastra asalinya dalam korpus 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘣𝘪𝘮 dan mengasingkannya ke dalam korpus 𝘯𝘦𝘣𝘪’𝘪𝘮 lebih karena masifnya elemen prediktif dan simbol apokaliptik. Genetik intelektual Kitab Daniel yang berakar di dalam sastra hikmat jelas lebih erat bergaul dengan Kitab Pengkotbah dan 1-2 Makabe, karena ditulis, terlokasikan, dan hendak menjawabi krisis sejarah yang sama dengan perspektif yang berbeda di jaman revolusi Makabe + 166 S.E.B. Vitalitas historis-transformatif Kitab Daniel sebagai 𝗛𝗮𝘀𝗶𝗱𝗶𝗺 𝗺𝗮𝗻𝗶𝗳𝗲𝘀𝘁𝗼 dalam memberikan penghiburan dan pengharapan melalui perlawanan saleh tanpa kekerasan kepada sejawatnya di lingkaran Makabe kemudian tereduksi menjadi tidak lebih dari “kitab primbon akhir jaman”, setelah berbagai simbol cryptic code dan seluruh data sejarahnya dibaca secara harafiah dalam rangkaian linear visi sinematografis. Pembacaan melalui pendekatan linguistik sinkronis dan integratif diharapkan dapat memulihkan kembali “sentralitas struktural” susastra sebaik vitalitas historis Kitab Daniel. Usaha berteologi kita di masa kini benar lebih bertumpu kepada (terjemahan) naskah 𝘔𝘢𝘴𝘴𝘰𝘳𝘦𝘵 tetapi pembacaan kaum awam masih sangat pekat mengoperasikan mentalitas susastra Septuaginta, yang secara tidak langsung telah menjadi lahan subur bertumbuhkembangnya paham fundamentalisme.

Patut pula digarisbawahi secara tebal bahwa teks, apapun gradasi religiusnya, dalam dirinya sendiri selalu berwatak 𝘮𝘰𝘯𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴. Gugatan awalnya adalah bahwa bentuk final teks merupakan produk elitis dari segelintir pena 𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘢𝘭, yang populasi dominannya relatif berada di atmosfer kosmopolit dan relatif dekat dengan 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘲𝘶𝘰 pusat kekuasaan religius
maupun politik, dan karenanya sangat diragukan keakuratannya dalam merepresentasikan apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam dunia antiq, siapa memegang pena maka ia menguasai dunia karena melalui melalui enalah tercipta hukum dan tatanan. Apakah setiap klaim tekslangsung menjadi rujukan lurus terhadap tatanan secara telanjang ataukah termasuk sebagai reksa susastra untuk mempertahankan maupun menggugat tatanan itu sendiri. Teks menjadi 𝘥𝘪𝘢𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴 sedikitnya hanya jika ia dipersandingkan pembacaannya secara cermat dalam “pertaliannya yang hidup dengan artefak“ baik di level “artefak kultur mental maupun kultur material” di mileu sosial, politik, dan religius jamannya. Hanya dengan jalan demikianlah usaha mengkonstruksikan teologi biblis dapat dikualifikasikan sebagai “berwatak dialogal”, pertama-tama dengan membaca kanon dalam sirkuit terbuka.

Implementasi hubungan antar kanon, khususnya PL dan PB, dalam sirkuit terbuka mencegah tendensi laten untuk “memonoteisasikan Alkitab Ibrani”, bahkan lebih buruk lagi pembacaan Kristosentrisme secara koersif, yang makin menajamkan sentimen anti-Semitisme dan karenanya menjadi sangat tidak produktif dalam konteks berteologi di abad pluralisme ini. Gerhard von Rad tegas menunjukkan bahwa Alkitab Ibrani tidak pernah memiliki pusat. Pembacaan sistematik dengan memindahkan premis Kristosentrisme PB ke dalam PL tidak saja menjadi ilegal tetapi juga kontra-produktif karena pada tempat pertama cenderung menghomogenisasikan interpretasi imani para penulis PB atas Yesus sejarah yang kenyataannya justru sangat heterodoks: satu Yesus banyak Kristus!!! Allah dalam premis dasar monotheisme adalah 𝘪𝘯𝘦𝘹𝘩𝘢𝘶𝘴𝘵𝘪𝘣𝘭𝘦 𝘔𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘺, termasuk ketika berinkarnasi sekalipun. Kristologi sebagai refleksi imani tentang Yesus akan menjadi 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗮𝗹𝗮 𝗱𝗼𝗴𝗺𝗮 manakala berpretensi bahwa ia dapat sepenuhnya menjelaskan Allah sebagai 𝘛𝘩𝘦 𝘞𝘩𝘰𝘭𝘭𝘺 𝘖𝘵𝘩𝘦𝘳, lalu ditempatkan dalam skema pewahyuan progresif demi klaim superioritas kanon PB atas PL dan demi melegitimasikan pembacaan Kristosentrisme. Inikah akar biblis dari segala bentuk “Kristus imperial-kolonial”???

Julius Wellhausen telah meletakkan fundamental pemahaman tak terbantahkan bahwa dua konstituen religius utama dalam Alkitab Ibrani, yaitu Yahwisme dan Yudaisme, merefleksikan genetik dan perkembangan religius yang sama sekali berbeda. Yahwisme yang menampilkan diri sebagai monotheisme etis (praktis) pun lebih tepat dimengerti sebagai Poli-Yahwisme, bertolak dari ragam karakteristik konstituen, matriks ideologis, dan pola penghayatannya, mulai dari agama resmi kenegaraan, agama kerakyatan, kesalehan populer, agama keluarga, kesalehan pribadi, dst. Yudaisme awal lebih mewakili tahap perkembangan monotheisme refleksif (teoritis). Kekristenan purba, entah dalam stigmanya sebagai gerakan pembaharuan ataupun sektarian, memiliki kesadaran ekumenis yang kuat sebagai konstituen absah dari Yudaisme. Pemahaman integral atas peradaban religius umat beriman dalam periode biblis menunjukkan bahwa pluralitas adalah nilai intrisik, terintegrasikan secara heterodoks, dan menempuh rute pengulangan paradigmatis yang sama: satu Yahweh banyak agama – satu Yesus banyak Kristus!!!

Maka, membangun hubungan antar kanon secara sehat sedikitnya harus dikonstruksikan terlebih dahulu dalam konteks membangun “oikumenisme internal” antara Yudaisme dan Kristen, dalam kesadaran kembar-sejajar sebagai “pengguna akhir” tanpa polemik untuk saling menihilkan. Artian lugasnya: baik Yudaisme maupun Kristen memiliki “hak kanonik sederajat” sebagai waris-penerus atas Alkitab Ibrani, yang dalam watak diakronisnya selalu membuka diri untuk digenapi. Membangun “pluralisme religius internal” antara Yahwisme dan Yudeo-Kristen berarti menghabisi polemik genap-menggenapi reduksionistik dimana PB seolah menjadi satu-satunya medan penggenapan PL. Cukup sudah 𝘏𝘰𝘭𝘰𝘤𝘢𝘶𝘴𝘵 menjadi skandal akbar religiositas anti-Semit; hutang tak terlunaskan dari Kekristen yang gagal menempatkan diri dalam pusaran pluralitas kanonik (Alkitab Ibrani, 𝘔𝘪𝘴𝘯𝘢𝘩, dan Alkitab PB). Kristianitas adalah religi cinta. Kerelaan untuk mengasihi Yesus tanpa syarat tidak mungkin serempak diikuti kesanggupan sistematis untuk menolak saudara dan saudariNya.

III

Melapis paradigma pluralisme, konstruksi metodologis di hulu keilmuan biblis harus paling pertama mengimplementasikan variabel kontekstual. Artinya, konstruksi dua kutub klasik, yaitu hulu keilmuan berbasis penelitian sejarah terhadap teks sebagai artefak kultural di dunia antiq (aspek formatif) dan hilir keilmuan berbasis perelavansian makna teologis teks otoritatif bagi pembinaan iman di kekinian jaman (aspek normatif), harus diperbaiki pendasarannya dengan saling memindahlokasikan basis risetnya secara integratif sehingga dapat bekerja serempak di tiap kutub tanpa polemik. Dekonstruksi historis tanpa mengintegrasikan variabel kontekstual di hulu studi kritis biblis beresiko mereduksi teks menjadi “ikon monolitik”: sekedar “fosil memorial” petualangan intelektual manusia kuno karena dilepaskan dari fungsi kritis dalam kehidupan kontekstual di jamannya sehingga kehilangan relevansi bahkan menjadi antitetikal bagi kehidupan kontemporer masa kini. Sebaliknya, kontekstualisasi teks tanpa mengintegrasikan variabel historis-obyektif teks di hilir keilmuan teologi (sistematik-pastoral), semata karena prevelise status istimewanya sebagai 𝘴𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘶𝘳𝘢 dan demi relevansi-fungsi otoritatifnya bagi kehidupan umat di masa kini, juga menghasilkan resiko reduksionitik yang sama. Memfasilitasi 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘳 𝘰𝘳𝘪𝘦𝘯𝘵𝘦𝘥 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘪𝘯𝘨 secara berlebihan, sejalan dengan agenda linguistik struktural Roland Barthes bahwa penentu makna hakikinya adalah “destinasi akhir teks di dalam impresi pembacanya” dan bukan lagi “asal-muasal teks dan intensi penulisnya”, akan melahirkan “𝘁𝗶𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝙖𝙝𝙞𝙨𝙩𝙤𝙧𝙞𝙘 𝗿𝗲𝗮𝗱𝗲𝗿”:
sebentuk “𝗳𝘂𝗻𝗱𝗮𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝗹𝗶𝘀𝗺𝗲 𝘁𝗲𝗸𝘀𝘁𝘂𝗮𝗹𝗶𝘀” yang setelah “membunuh penulis teks” malah terasing sebagai pembaca tanpa sejarah, biografi, dan psikologi di tengah samudra semiotika. Pembacaan di konteks akhir teks maupun di konteks kekinian pembaca yang mensetrilkan diri dari kompleksitas variabel historis akan menghasilkan perbudakan intelektual baru, yang hanya memberikan tiket tunggal untuk berkendara dengan kritik naratif, struktural, atau retorik ke dalam pengasingan di kastil berhala dogma. Manusia terkerdilkan dari kapasitas paling primitifnya, meminjam terminologi Ernst Cassier, sebagai 𝘢𝘯𝘪𝘮𝘢𝘭 𝘴𝘺𝘮𝘣𝘰𝘭𝘪𝘤𝘶𝘮. Keunikan manusia bukan pertama-tama di dalam daya berpikirnya sebagai 𝘩𝘰𝘮𝘰 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘭𝘭𝘦𝘤𝘵𝘶𝘮 tetapi di dalam kemampuannya “memproduksi dan menggunakan 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘪𝘰𝘯/simbol”. Bahasa tulisan adalah perwujudan simbol yang melaluinya manusia dapat berpikir baik secara abstrak maupun konkret. Fungsi simbolik bahasa justru menonjolkan 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗶𝗹𝗺𝗶𝗮𝗵 karena “simbol menyembunyikan makna” yang hanya dapat dimengerti melalui permenungan budi dan praktek belajar. Bahasa simbol dan simbol bahasa dengan demikian selalu bersifat obyektif dan historis karena terikat dengan kesejarahan pengalaman dan pikiran penulis yang mengkomunikasikannya.

Analisis komparatif secara 𝘪𝘯 𝘣𝘳𝘦𝘢𝘥𝘵𝘩 dalam sains agama (𝘙𝘦𝘭𝘪𝘨𝘪𝘰𝘯𝘴𝘸𝘪𝘴𝘴𝘦𝘯𝘴𝘤𝘩𝘢𝘧𝘵), khususnya pendekatan fenomenologis dalam orbit berpikir Rudolf Otto (dan Edmund Husserl), dapat menjadi partner dialogis kritis dengan percakapan biblis tentang Allah. Medan perjumpaan dengan Yang Sakral terjadi di dalam “dunia kenyataan” yang langsung dihidupi (𝘥𝘪𝘦 𝘓𝘦𝘣𝘦𝘯𝘴𝘸𝘦𝘭𝘵) dan bukan aktifitas statis di dalam “dunia ide” memiliki kesejajaran dengan pemahaman biblis bahwa titik tolak percakapan tentang Allah adalah sejauh Allah yang bertindak, mensejarah, dan bisa dialami dalam konteks dunia ciptaan, serta sejauh bisa ditampung dengan akal budi sadar. Pengalaman perjumpaan dengan Yang Sakral mentransendensikan semua bentuk penalaran insani dan menawannya ke dalam sikap hormat religius: 𝘵𝘳𝘦𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘮 𝘦𝘵 𝘧𝘢𝘴𝘤𝘪𝘯𝘢𝘯. Ngeri kegentaran dan pesona kekaguman dalam menanggapi kehadiran Allah dalam tanda dan mujizat – 𝘴𝘪𝘨𝘯𝘴 and 𝘸𝘰𝘯𝘥𝘦𝘳 akan terus membuat manusia tertawan secara 𝘴𝘪𝘨𝘯(𝘪𝘧𝘤𝘢𝘯𝘵) and 𝘸𝘰𝘯𝘥𝘦𝘳(𝘧𝘶𝘭) dalam setiap percakapannya tentang Allah. 𝘋𝘪𝘦 𝘓𝘦𝘣𝘦𝘯𝘴𝘸𝘦𝘭𝘵 kemudian menjadi “pengetahuan langsung” yang terhubung dengan “pemikiran dan tindakan”. Ia pertama-tama menghasilkan “𝘪𝘯𝘴𝘪𝘨𝘩𝘵𝘧𝘶𝘭 𝘵𝘩𝘰𝘶𝘨𝘩𝘵” yang mengundang pemahaman-penalaran mental guna mencari pemaknaannya melalui penafsiran, yang pararel
dengan gagasan Cassier, untuk kemudian ditampung dalam bentuk simbol. Simbol menjadi “pengetahuan tidak langsung”, memberikan referensi obyektif terhadap pengalaman
yang disimbolkan secara i dikatif dan intensional, tetapi serentak tidak dapat menjelaskan secara tuntas-habis dan menggantikan apa yang sedang disimbolkannya. Setiap usaha tekstualisasi atas simbol kemudian mengorbit di dalam “penalaran ideogramik” yang daya jelajahnya melampaui “penalaran diskursif” dalam rumusan rasional-konseptual. Kegentaran dan kekaguman terhadap Yang Sakral mendapat pemuncakannya di dalam “momen energetik”, yaitu, 𝘦𝘯𝘦𝘳𝘨𝘪𝘤𝘶𝘮 untuk mengerjakan kegairahan hidup dalam cinta dan belarasa, moral dan etika, kerja dan karya, dan semua bentuk semangat juang untuk mengaktivasikan seluruh pijar dimensi kekayaan kehidupan dan kemanusiaan. 𝘌𝘯𝘦𝘳𝘨𝘪𝘤𝘶𝘮 selalu berorientasi kepada tindakan hidup dan karenanya tidak mengenal “percakapan tentang Allah filsafati” dari dunia ide serba abstrak dan spekulatif dengan rumusan reduksionistik dan impersonal.

Pendekatan fenomenologis membawa implikasi penting bagi pemahaman skriptural tentang 𝘵𝘩𝘦𝘰𝘴 𝘱𝘯𝘦𝘶𝘴𝘵𝘩𝘰𝘴. Ia dapat dimengerti tanpa tersandera preskripsi dogmatik dalam rumusan pasif “𝗱𝗶𝗶𝗻𝘀𝗽𝗶𝗿𝗮𝘀𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵” melainkan dapat leluasa bergerak melampaui “pagar konfesional” dalam semangat akan tanggung-jawab anamnestis kita semua untuk secara aktif “𝗺𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘀𝗽𝗶𝗿𝗮𝘀𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵” ke dalam dunia yang terus berubah. Pula, fungsi paradigmatis Alkitab dalam membantu kita mencari “pikiran dan kehendak Ilahi” dapat lebih terluaskan dalam praksis maupun dalam refleksi kritis atasnya. Orientasi 𝘦𝘯𝘦𝘳𝘨𝘪𝘤𝘶𝘮 pun dapat lebih menseimbangkan antara kepentingan historis dan teologis, i.e. mencegah pemaksaan teologisasi atas wilayah kerja interpretasi historis dan sebaliknya menjaga agar studi historis, dalam batas kewenangan obyektifitas metodologisnya, bersedia membuka diri terhadap komitmen teologis dan pastoral. Dalam skema menyeluruh, teks skriptural dimengerti secara 𝗸𝗼𝗿𝗲𝗹𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹-𝗱𝗶𝗮𝗹𝗼𝗴𝗮𝗹 dalam
setiap perpindahan konteks hidupnya sehingga basis normatifnya tidak diturunkan dari rumusan dogmatik tetapi mengalir keluar dari fungsi teks yang t𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘴𝘦𝘫𝘢𝘳𝘢𝘩 dalam kehidupan, di awal dalam konteks penulisnya hingga di konteks akhir dalam komunitas kanoniknya. Sampai di sini sudah cukup jelas bahwa Alkitab dalam statusnya sebagai “𝘭𝘪𝘵𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘳𝘦” di dalam riset akademik dan sebagai “𝘴𝘤𝘪𝘱𝘵𝘶𝘳𝘦” di dalam teologi gereja dapat menjalankan fungsi kerjanya secara ko-eksistensi mutual-dialogis.

Sekali lagi, prioritas analisis bahasa pendukung valid bagi variabel pluralisme, kontekstual, dan fenomenologis adalah pendekatan diakronis. Penulis teks biblis telah menolak vonis mati Barthes. Tuduhan “tirani interpretasi” adalah 𝘢𝘣𝘴𝘶𝘳𝘥 karena interpretasi adalah seni membangun jembatan komunikasi secara ilmiah, obyektif, dan historis yang menspiral secara organik dan berkesinambungan dari konteks awal teks, konteks akhir teks, konteks sejarah penafsiran, sebelum kemudian menulusuri berbagai lapisan kontes pembaca dalam lorong gelap sejarah gereja hingga implementasinya secara aktual dalam situasi kontemporer masa kini. Interpretasi kritis adalah cara paling jitu mengurangi kesejangan historis antara penulis dan pembaca, memelihara “kohorensi kultural dan identitas kolektif” antara kelampauan dan kekinian, dan secara produktif menghasilkan sebentuk budaya partisipatoris; dan bukan romantisme. Ia mengingatkan kebenaran yang terlupakan dari masa lampau, menggugahnya menjadi 𝘤𝘰𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳-𝘤𝘶𝘭𝘵𝘶𝘳𝘦 bagi krisis di masa kini, dan menggerakkan pembacanya secara 𝘢𝘯𝘢𝘮𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪𝘴 untuk meneruskan perjuangan yang belum terselesaikan.

Integrasi variabel pluralisme, kontekstual, dan fenomenologis dalam studi kritis membawa beberapa implikasi keilmuan penting. Pertama adalah perluasan medan penelitian secara lintas ilmu terhadap konteks peradaban penyangganya. Umum berlaku bahwa rumah besar peradaban yang menjadi landasan pijakan religio-kultural bersama bagi Yahwisme adalah dunia Timur Dekat Kuno (TDK) dan dunia Greko-Roman bagi Yudaisme terkemudian dan Kekristenan mula-mula. Dunia Mediterania relatif terpinggirkan sebagai konteks yang mewadahi transisi peradaban religius dari monoteisme etis Yahwisme menuju monoteisme refleksi Yudaisme awal, yang adalah akar bersama bagi Yudaisme terkemudian dan Kekristenan mula-mula. Studi konteks Mediterania sangat vital agar studi biblis dapat (1) meninggalkan lompatan “dikotomi Tertulianus”, dari konteks PL langsung menuju konteks PB, (2) lebih memperhatikan akar ekumenik antara Yudaisme dan Kristen secara menyeluruh termasuk memperhitungkan multi-wajah susastra dan konstituen religius yang berkembang di luar orthodoksi dalam Imperium Roma, dan (3) menjadi pusat penghubung tradisi religio-kultural Timur dan Barat bagi hilir keilmuan dalam meluaskan horison refleksi pluralisme, kontekstualisasi, dan fenomenologinya secara progresif ke dalam konteks dunia Oriental secara umum, dan konteks Asia dan Nusantara secara khususnya. Kedua, rekoneksi studi filologi biblis, khususnya Bahasa Ibrani dan Aramaik, ke dalam rumah besar linguistik Semitik secara komparatif, lebih sebagai 𝘧𝘪𝘭𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪 𝘩𝘶𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴 daripada 𝘧𝘪𝘭𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢. Aspek genetisnya dapat lebih tereksplorasi manakala keduanya bisa bergaul keluar dari “narasi induknya” dan bebas pendangkalan akibat tunduk pada kepentingan “teologisasi teks”. Rekoneksi obyektif dalam sirkuit terbuka tersebut sangat fundamental karena filologi biblis sebagai tulang punggung interpretasi menjadi lebih mudah dibaca pertaliannya dengan data epigrafis-inskripsi.

Ketiga, memberi tempat secara lebih luas bagi analisis secara 𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘱𝘵𝘩 melalui pendekatan studi sejarah agama (𝘙𝘦𝘭𝘪𝘨𝘪𝘰𝘯𝘴𝘨𝘦𝘴𝘤𝘩𝘪𝘤𝘵𝘦). Studi religius secara sistematik dengan orientasi “non teologis dan non konfesional” dapat lebih memberikan keleluasaan epistemik bagi studi kritis dalam obyektifitasnya membangun spiral hermeneutik internalnya di dalam literatur biblis sebaik perluasan ekternalnya ke dalam literatur skriptural dalam agama-agama Oriental dan Asia, secara lebih sinambung dan bebas dari bias praduga evolusionitik. Studi sejarah agama menjadi sangat vital agar variabel pluralisme dan kontekstual dapat diimplementasi secara lebih akurat dalam konteks khas religio-kultural Asia (dan Nusantara). Resiko bahwa kemudian studi kritis lebih mengakomodasikan metodologi secara lebih 𝘢𝘨𝘯𝘰𝘴𝘵𝘪𝘤 harus ditempatkan dalam konteks pemahaman untuk meminimalkan “𝘣𝘭𝘪𝘯𝘥 𝘴𝘱𝘰𝘵 analitik” terhadap wilayah literatur religius yang ditabukan dari kajian ilmiah dan untuk mengembangkan “solidaritas epistemik” dengan ilmu-ilmu humaniora demi menempatkan Alkitab secara lebih konstruktif dalam percaturannya dengan khazanah literatur skriptural dalam konteks multikulturalisme Asia. Pendekatan ilmu sejarah agama dapat membantu percepatan proses dekonstruksi agar pewartaan skriptural Kristen dapat terkerjakan secara lebih berdikari: (1) lepas dari residu 𝘴𝘶𝘱𝘦𝘳𝘪𝘰𝘳𝘪𝘵𝘺 𝘤𝘰𝘮𝘱𝘭𝘦𝘹 monotheisme Barat dan segala bentuk mentalitas imperialisme religiusnya, (2) ramah terhadap kenyataan Asia terutama pluralitas keagamaannya dan heretodoksi Kekristenan yang telah mempribumi sebelum gerakan misi Barat, dan (3) terbuka untuk lebih 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝘁𝘂𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗮𝗿𝗶𝗳𝗮𝗻 𝗹𝗼𝗸𝗮𝗹 dalam dialog dengan paradigma biblis tanpa pemaksaan universalisasi terhadap kategori teologi Kristen tertentu yang genetik awalnya adalah juga kearifan lokal Kristen Barat. yang menjadi lingkungan pergaulan intelektual teks dan data arkeologis yang menjadi kultur material peyangga daur hidup teks.

Aloysius Pieris secara jitu telah menunjuk “kemajemukan agama dan kemiskinan” sebagai konteks definitif bagi setiap usaha membangun teologi kontekstual Asia. Meng-Asia-kan, dan secara lebih khusus me-Nusantara-kan, kembali wajah Yesus, dalam konstruksi teologi kontekstual harus dikerjakan dalam semangat menjawabi dua variabel imperativ tersebut. Pada satu aspek, Kekristenan di Asia harus memikul banyak beban sejarah dan rekening hutang peradaban “Kristus kolonial” yang tak terlunaskan dari era misi Barat. Salah satu warisan kultur mental kolonial dengan dampak paling destruktif adalah “𝘶𝘯𝘴𝘦𝘦𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘳𝘵𝘩𝘦𝘪𝘥”, yang mungkin ditolak eksistensinya secara formal tetapi praktis telah mencabik-cabik kesadaran kolektif akan paham nation ke dalam kategori 𝘪𝘯𝘨𝘳𝘰𝘶𝘱 – 𝘰𝘶𝘵𝘨𝘳𝘰𝘶𝘱 relatif berdasarkan perkubuan: pribumi 𝘷𝘴 non pribumi, muslim 𝘷𝘴 non muslim atau yang lebih tersamarkan melalui penghalusan semantik dalam terminologi yang lebih menggelorakan benturan peradaban: pebisnis 𝘷𝘴 saudagar, masyarakat sipil 𝘷𝘴 masyarakat madani, palang merah 𝘷𝘴 bulan sabit merah, dlsb. Perselingkuhan antara strategi kolonialisasi melalui politik 𝘥𝘦𝘷𝘪𝘥𝘦 𝘦𝘵 𝘪𝘮𝘱𝘦𝘳𝘢 dan pemberhalaan dogma predestinasi menghasilkan anak haram “pseudo rasial” yang lebih kejam daripada gradasi tatanan kasta yang pernah menulangpunggi tatanan sosio-religius Nusantara. Ia bahkan masih leluasa menjadi sahabat-konsultan alam bawah sadar bagi pola kepemimpinan dan pengambilan keputusan di dalam berbagai lembaga rohani. Di lain aspek, usaha menusantarakan iman Kristen dalam konteks kekinian juga berada di persimpangan jalan manakala harus berhadapan dengan anak peradabannya sendiri: “𝗱𝘂𝗲𝘁 𝗵𝗮𝗿𝗺𝗼𝗻𝗶𝘀 𝗱𝗲𝗺𝗼𝗸𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗽𝗶𝘁𝗮𝗹𝗶𝘀𝗺𝗲” di jalur kanan serta “𝗱𝘂𝗲𝘁 𝗺𝗮𝘂𝘁 𝘀𝗼𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗺𝗲 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘀𝗺𝗲” di jalur kiri. Kristen berjiwa nusantara seharusnya mampu menempatkan diri sebagai oposan kritis dan dinamis tanpa sikap pilih kasih ataupun kebencian terhadap keduanya. Benar bahwa Kekristenan mengutamakan “𝘱𝘳𝘦𝘧𝘦𝘳𝘦𝘯𝘵𝘪𝘢𝘭 𝘰𝘱𝘵𝘪𝘰𝘯 𝘧𝘰𝘳 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘰𝘳” tetapi juga menolak untuk merohanikan kemiskinan. Fenomena kekinian telah berkata lain. Banyak Kristen mungkin sudah terlalu lelah untuk hidup miskin dan memerangi kemiskinan struktural adalah wajib hukumnya. Tetapi membangun “𝘨𝘦𝘵𝘩𝘰 borjuasi spiritual” dengan demokrasi di jalur kanan dan keuangan mahakuasa di jalur kiri karena bosan untuk hidup di tengah orang miskin menjadi persoalan besar. Kekristenan berjiwa nusantara seharusnya bisa menjadi anti-tesis terhadap tren kapitalisme global. Mempromosikan heterogenitas, kesetaraan, solidaritas, keadilan dan kebenaran sejatinya pengejahwantahan mandat biblis, bagian integral dari identitas etis kita sebagai warga Kerajaan Allah, dan bukan semata sebagai “produk proses politik” tertentu!!! Mari kita belajar menimba sedikit oase ideologis dari kearifan lokal Mbah Marhein: seorang pekerja sekaligus pengusaha, 𝘬𝘢𝘸𝘶𝘭𝘰 𝘢𝘭𝘪𝘵 sekaligus “𝘳𝘶𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘤𝘭𝘢𝘴𝘴” atas dirinya sendiri, yang menolak menjadi kapitalis ataupun komunis, tetapi cukup dengan kejatidirian nusantaranya dalam berbudaya dan beragama.

Mbah Marhein, kemudian terpersonifikasikan menjadi pemikiran ideologis Sang Putra Fajar, dalam segala keluguannya sebagai 𝘸𝘰𝘯𝘨 𝘯𝘥𝘦𝘴o dapat diklasifikasikan sebagai pionir narasi kontekstual yang mengintegrasikan tradisi filsafat Barat dengan kearifan lokal. Tidak ada tendensi 𝘹𝘦𝘯𝘰𝘱𝘩𝘰𝘣𝘪𝘢 ketika mendekonstruksikan materialisme dialektis atau dualisme pertentangan kelas 𝘣𝘰𝘳𝘫𝘶𝘪𝘴 (asing) 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘶𝘴 𝘱𝘳𝘰𝘭𝘦𝘵𝘢𝘳 (pribumi). Ia merangkul seluruh paham theisme ke dalam level penghayatan baru: kedaulatan berbudaya
yang mempromosikan “pluralisme – multikulturalisme nusantara”. Menjadi Islam tulen tanpa kearab-araban, Kristen tulen tanpa keyahudi-yahudian, Hindu tulen tanpa keindia-indian… Mbah Marhein menolak pertentangan kelas dengan menanamkan sikap 𝘦𝘯𝘵𝘳𝘦𝘱𝘳𝘦𝘯𝘦𝘶𝘳𝘴𝘩𝘪𝘱: 𝘸𝘰𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘪 merdeka sebagai tuan dalam mempekerjakan dirinya sendiri, yang berdaulat dalam modal dan kerja. Ia menolak baik kesuksesan dan kebebasan dengan premis kapitalisme maupun kesetaraan dan solidaritas dengan premis komunisme, tetapi cukup menghidupi diri dalam etos kehambaan “𝘴𝘦𝘱𝘪 𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘮𝘳𝘪𝘩 𝘳𝘢𝘮𝘦 𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘸𝘦” bersama sesamanya kawulo alit untuk bergotong-royong membangun paguyuban hidup bakti. Ia tidak gentar ketika harus berseberangan dengan “generasi Kawan Sam”, yang terlalu berhalauan puritan, revivalis spirit kiri ultra 𝘤𝘩𝘢𝘶𝘷𝘪𝘯𝘪𝘴𝘵𝘪𝘬, yang menolak menjadi kontekstual dan arif berbudaya sehingga punah digilas jaman karena menghalalkan jalan kekerasan. Apapun pendirian ideologis dan afiliasi theismenya, Mbah Marhein secara praktis sudah berusaha mempribumikan “spirit etika komunitarianisme”, dengan atau tanpa membaca teks kovenan Sinai.

Entah kawan seperjuangannya atau bukan, spirit Marheinis dapat bersanding secara harmoni dengan kultur abangan masyarakat lereng Merapi, sebagaimana terefleksikan dalam pelayanan, laku spiritual, dan pandangan hidup Mbah Maridjan. Sebagai abdi bumi yang mengorbitkan diri dalam etos harmoni kosmik “𝘮𝘦𝘮𝘢𝘺𝘶 𝘩𝘢𝘺𝘶𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘸𝘰𝘯𝘰” (i.e. mempertahankan dan menambah keindahan kosmos yang sudah tercipta secara indah), Mbah Maridjan berusaha memperkaya etos kehambaan masyarakatnya dengan menambahkan dimensi etis dari praksis keabdiannya sendiri melalui sebuah 𝘱𝘦𝘱𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨: “𝘢𝘫𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘯𝘨𝘴𝘰 𝘪𝘬𝘶 𝘨𝘶𝘮𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘰 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨-𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯𝘦”. Sebuah wejangan hikmat untuk diingat dan dibhaktikan secara etis bahwa “nilai hakiki manusia itu tergantung dari tanggung-jawab terhadap kewajibannya”. Visi Yawistik bagi kemanusiaan untuk mengolah dan memelihara bumi menemukan padanan etos kosmologis dimana kewajiban terhadap bumi dan sesama hendak ditatalayankan secara 𝘶𝘯𝘤𝘰𝘯𝘥𝘪𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭. Entah golongan kiri atau bukan dan apapun akar kesalehan pribadinya, Mbah Maridjan praktis sudah berusaha untuk mengorbitkan hidup dan karyanya dalam “spirit profetik biblis” bahwa hidup adalah pemenuhan kewajiban melalui pengosongan diri untuk mengikhlaslepaskan semua ego atas hak. Jalan setapak spiritualitas Yohanes seolah sedang mendaki keheningan sepengal Eden di lereng Merapi: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Pada satu aspek, sebagai orang beriman yang sepenuhnya menyadari bahwa di dalam budaya ada resiko perlawanan terhadap Allah karena natur keberdosaan manusia, mungkin kita banyak tidak setuju dengan paham kemanusiaan di bawah alam yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk ritual pengilahian alam. Di lain aspek, kita tidak perlu malu untuk menimba “seteguk 𝘵𝘰𝘺𝘰 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨-air jernih” dari praksis kearifan hidup berwawasan kosmik, yang sedikitnya sudah memperlakukan dan menghormati dignitas alam sebagai persona. Air jernih yang dapat menambah bobot 𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘱𝘪𝘳𝘪𝘵𝘶𝘢𝘭 kita untuk mengkonkretisasi kearifan ekologis dalam semangat iman yang berani mengambil resiko; untuk hidup secara damai dengan bencana.

Jika menghabisi paham dikotomis masih tidak cukup untuk mengutuhkan perkubuan spiritualitas liberal 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘶𝘴 konservatif, oikumenis 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘶𝘴 injili, maka revolusi mentalitas religius adalah langkah selanjutnya. Ia menyangkut dekonstruksi total terhadap cara pandang terhadap spiritualitas agar tidak menjadi sektarianistik. Spiritualitas tidak dapat dikerdilkan menjadi sebatas penghayatan ibadah berdasarkan performa-fitur liturgis atau corak kesalehan tertentu di ruang sakral. Hingar-bingar di 𝘩𝘰𝘭𝘺 𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦 tidak banyak berarti manakala semarak kehangatan liturgisnya menjadi dingin dan membisu karena tumpul dalam menjawabi gejolak kehidupan di 𝘮𝘢𝘳𝘬𝘦𝘵 𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦. Spiritualitas pertama-tama adalah menyangkut cara pandang sakramental terhadap kehidupan yang secara integratif memahami liturgi tidak saja peribadatan sebagai 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻. Liturgi sebagai ’𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘩 di 𝘩𝘰𝘭𝘺 𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦 serempak menjadi liturgi kehidupan sebagai ’𝘢𝘣𝘰𝘥𝘢𝘩 di 𝘮𝘢𝘳𝘬𝘦𝘵 𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦. Mimbar dan altar – Firman dan Sakramen harus mampu termanifestasikan di dalam pandangan dunia, tata nilai, orientasi etis, dan gaya hidup umat beriman yang sedang mengerjakan keselamatannya di dunia kerja. Spirit liturgi kehidupan adalah “𝙛𝙞𝙙𝙚𝙨 𝙥𝙧𝙤 𝙢𝙪𝙣𝙙𝙞 𝙫𝙞𝙩𝙖” i.e. mengerjakan hidup beriman, dengan berpihak dan menaruh hormat terhadap sakralitas dan nilai luhur seluruh bentuk kehidupan di dunia, demi mengejahwantahkan kasih Allah bagi seluruh kosmos itu sendiri (bdk. Yoh 3:16). Ia menjadi sebentuk spiritualitas berdaya kritis dan protes manakala tata kelola atas kehidupan dioperasikan lepas dari prinsip shalom Allah.

𝗦𝘁𝘂𝗱𝗶 𝗸𝗿𝗶𝘁𝗶𝘀 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗿𝗶𝗯 𝘀𝗽𝗶𝗿𝗶𝘁𝘂𝗮𝗹 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮 dalam fungsinya untuk “𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝘄𝗮𝗹 𝗮𝗷𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗶𝗺𝗮𝗻” agar tidak merosot kualitasnya menjadi “angan-angan saleh” berbasis penghayatan psikologi agama. Peziarahan spiritual secara otentik akan selalu mencari wajah Tuhan secara baru, meskipun berliku dan melelahkan, sebagai bagian integral dari kemasukakalan proses rahmat. Studi kritis dalam batas tertentu dapat memupuk 𝘴𝘦𝘯𝘴𝘦 𝘰𝘧 𝘴𝘱𝘪𝘳𝘪𝘵𝘶𝘢𝘭 𝘤𝘳𝘪𝘴𝘪𝘴 kita agar tidak terlalu cepat lari kepada Tuhan sebagai jawaban, lebih kreatif dan bertanggung-jawab dalam menghadirkan Tuhan di tengah dunia yang terus berubah. Metode kritis adalah alat obyektif untuk mencapai tujuan, bukan obyek devosional – dasar spiritualitas “untuk diimani”, yaitu, guna mempertanggungjawabkan kehidupan iman secara lebih efektif. Sebaliknya, menjadi atheis atau sekedar skeptis dan menolak menjadi saleh berdasarkan teori kritis tertentu tentu saja absurd karena pendasarannya jelas melampaui kewenangan metodologis teori itu sendiri.

Permenungan tulisan ini dari awal telah berusaha menunjukkan bahwa Yang Ilahi sudah demikian bahkan teramat humanis bagi seluruh kemanusiaan. Lalu, masihkah kita malas berubah untuk mendewasakan diri dengan terus berkubang dalam “berhala dogma” dan “kultus 𝘰𝘮𝘯𝘪” yang terlalu rewel memaksa Tuhan untuk menjadi maha kuasa??? Kearifan humoris di dunia digital adalah mengikhlaskan pengambilalihan “mentalitas serba maha” oleh para netizen di dunia maya yang memang maha benar, maha asyik, dan maha jahil-usil, yang juga sedang berjuang mengkritisi dan memaknai perubahan jaman secara lebih baru dan produktif. 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘥𝘪𝘨𝘮 𝘴𝘩𝘪𝘧𝘵 dalam tataran praksis adalah menyambung mata rantai ideal lawas yang patah, yaitu, kembali mengoperasikan hidup dan kehidupan sesuai fitrah kita sebagai rekan Allah, entah sebagai “𝘤𝘰-𝘤𝘳𝘦𝘢𝘵𝘰𝘳, 𝘤𝘰-𝘸𝘰𝘳𝘬𝘦𝘳, dan 𝘤𝘰-𝘦𝘷𝘰𝘭𝘷𝘦𝘳” atau kategori kemitraan biblis lainnya, serta serempak mengambil jarak kritis bahkan berpisah secara radikal dengan semua bentuk mentalitas “komodifikasi religius”. Hingar bingar “𝗶𝗻𝗱𝘂𝘀𝘁𝗿𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗹𝗲𝗵𝗲𝗻 𝗯𝗼𝗿𝗷𝘂𝗶𝘀” secara bengis telah memiskinkan wajah Allah: bukan lagi sebagai “𝘶𝘯𝘤𝘰𝘯𝘥𝘪𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘢𝘭 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘱𝘢𝘳𝘵𝘯𝘦𝘳” bagi umat beriman tetapi menjadi tidak lebih sebagai “mitra dagang” dan “partner kekuasaan” yang disembah di bawah kendali hukum tabur-tuai dan nalar untung-rugi demi memapankan gaya hidup berbasis rezim konsumsi!!! Semua kemudian membenarkan diri dengan mengatasnamakan pencapaian “hidup yang diberkati” tanpa mempedulikan resiko bahwa ajaran biblis tentang berkah telah dijungkirbalikkan secara brutal “dari 𝘳𝘦𝘭𝘢𝘴𝘪 menjadi 𝘪𝘴𝘪”. Dan inikah kesalehan???

Sanggar Tekoa, awal Mei 2019

FHL

STOLA DAN TOGA

Stola dan Toga sebagai pelengkap pelayanan liturgis
Stola dan Toga, Foto Pdt. Musa Roberth persulessy, S.Th

Menurut kamus Inggris kata Stole = Shal = selembar kain yang disandang, adalah selendang atau syal atau diindonesiakan Stola.

Salah satu istilah pakaian perayaan ibadah di Israel adalah Efod. Baju Kebesaran Imam dan Imam Kepala yang bertugas melayankan persembahan dan kurban dengan “berhiaskan kekudusan” (1Taw 16:28).

Pakaian Imam penuh dengan ornament dan simbol religius itulah yang dimaksudkan berhiaskan kekudusan.

Ketika penahbisan Harun menjadi Imam, Musa melakukan penahbisan itu sesuai dengan perintah TUHAN. Penahbisan itu penuh dengan simbol dan tanda-tanda yang dimaksudkan bahwa penahbisan Imam adalah kudus beserta dengan perlengkapan yang dipakainya.

Sesudah pembasuhan (penyucian, baca seperti yang dilakukan Yesus kepada murid-murid-Nya, Yoh 13:1-20). Musa mengenakan pakaian Imam kepada Harun:

“Kemeja, Ikat Pinggang, Gamis, Baju Efod, Sabuk Efod, Tutup dada lengkap dengan Urim dan Tumim, Serban, yang dibubuhi Patam Emas (Kel 28:1-36, 39:1-31 dan Im 8:1-36).”

Bagian-bagian pakaian tersebut di atas adalah simbol-simbol dan tanda-tanda dalam perayaan Ibadah. Pada peristiwa peralihan kanabian Elia dan Elisa, penyerahan jubah adalah simbolisasi penyerahan wibawa Pelayanan/Mandat Pelayanan/Tugas Pelayanan/Tanggungjawab Pelayanan/kenabian (1Rj 19:19).

Stola pada zaman PB disebut “Jubah” (Mrk 16:5, Luk 15:22).
Gambaran Jubah dalam pikiran kita menurut Why 6:11 tentang “sehelai jubah” adalah seperti selendang yang dililitkan menutupi tubuh.

Apakah sehelai jubah/jubah yang tidak berjahit (Mat 27:35, Mrk 15:24, Yoh 19:23) yang dimaksudkan dengan Stola? ada kemiripannya (Menurut Saya)!!

Pada zaman Romawi, Stola dipakai oleh para Abdi Negara. Dibawah Undang-undang Sipil menurut naskah kuno Theodosian (395 AD) Senator dan Dewan diwajibkan memakai Stola bersama dengan jubah/toga kehormatannya.

Pada gereja barat Stola diterima pada saat penahbisan jabatan pelayanan itu. Pada zaman Bishop Apollinaris, (abad ke – VI) mengaturkan pemakaian Stola mulai dari bahu kiri mengelilingi leher hingga menjurai ke bawah di depan dada sebelah kanan.
Gereja Barat menyebut Stola dengan istilah omophorion. Stola pada zaman PB disebut “Jubah” (Mrk 16:5, Luk 15:22).
Pernah Yesus menegur seorang Imam karena memakai pakaian Imam sebagai topeng pemerasan (Mat 23:5).

Sejarah Stola sangat panjang dan beragam versinya. Gereja di barat sampai saat ini menetapkan cara pemakaian Stola sesuai jabatan pelayanannya, gereja di timur, timur tengah hingga ke daratan asia dan indonesia pun papua pun turut serta.

Salah satu unsur Pakaian Pelayan/Jubah yang dibicarakan juga adalah pemakaian Stola. Apakah Fungsi dan Makna Stola? Karena STOLA adalah bagian dari Jubah yang berfungsi sebagai tanda “kesetiaan memikul KUK PELAYAN” dan bermakna sebagai “PAKAIAN KEKUDUSAN”.

Di dalam Perjanjian Lama istilah STOLA tidak ditemukan. Namun para Imam dan Imam Kepala memakai baju Efod selama kebaktian.

Pertemuan umat dengan Allah dalam perayaan liturgi/ibadah adalah sebuah perayaan yang bermain dengan simbol.

Simbol dan tanda dapat dipastikan berperan dalam perayaan liturgi, sebagaimana dalam kehidupan masyarakat.

Liturgi terdiri atas bingkai aksi dan bingkai perayaan/ibadah. Aksi atau praksis di dalam hidup sehari-hari adalah liturgi yang sejati (Roma 12:1).

Ilmu liturgi berbicara dan mengupas soal perayaan, yang tentunya berkaitan dengan simbol. Karena ada pemahaman masyarakat simbol kena-mengena = mempengaruhi) sikap hidup sehari-hari.

Tanda dan simbol dapat dibedakan karena pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari. Tanda cukup dilihat, tetapi simbol perlu keterlibatan. Simbol berfungsi menangkap dan menjembatani diri pribadi (masa kini) dan pribadi lain (masa lalu).

TANDA DAN LAMBANG DAPAT MENJADI SIMBOL. Benda, gerak, gambar, tanda dan peristiwa dapat menjadi simbol atau yang dihayati sebagai simbol.

Dalam liturgi, warna-warni dan pakaian liturgis adalah tanda. Tanda, lambang dan simbol tidak sekedar, seperti itu tetapi dia berbicara melampaui yang ditampilkannnya. Karena pakaian Imam adalah tanda wibawa dan tanggung jawab pelayanan, dan sebagai pakaian kekudusan menghadapi Allah yang Maha Kudus.

Dalam tradisi Perguruan Tinggi, pemberian Stola seiring dengan saat wisuda sebagai simbol bahwa Wisudawan/ti diperkenankan mengemban Status kesarjanaan ilmunya dan secara bertanggung jawab bagi keperluan manusia.

Beberapa tinjauan tentang Fungsi dan makna Stola dan hubungannya dengan Jubah Pelayan:
1. Stola perlu sebagai bagian dari “hiasan kekudusan”.

2. Warna Stola sesuai dengan Liturgi yang mengingatkan umat tentang thema minggu tersebut.

3. Alat pelayanan; ikat pinggang untuk menyeka/melap kaki pada acara pembasuhan (Yoh 13:4-5).

4. Tanda kesetiaan memikul KUK yang diberikan Tuhan Yesus. Seperti Yesus yang setia sampai mati memikul kuk/salib ke Golgotha.

5. Alat pemersatu dan komunikasi sesama pelayan.

6. Pakaian kebesaran Hamba menghadap ALLAH yang maha kudus yang hadir pada perayaan Liturgi.

7. Dipakai pada pelayanan: Kebaktian Minggu/sakramen, Pernikahan, Penguburan (di gereja, di rumah atau di kuburan), Pelayanan Perjamuan Kudus di luar gereja, ibadah lain yang dianggap perlu memakainya: (HUT/Jubelium, peletakan batu I rumah, atau bangunan gereja, peresmian bangunan gereja atau rumah).

Toga Berwarna hitam pekat (Jubah Pelayan) dengan Dasi/Collar/Caller yang mirip punya Hakim (Pengadilan) ada kemungkinan diadopsi dari milik sosok Calvin/Luther (Sebagai cara pandang dari segi hukum), sehingga berdirinya seorang pelayan sudah selayaknya hakim yang bertugas untuk menyampaikan kabar/berita sukacita dan dukacita dalam suatu penghakiman.

Jika benar pengadopsiannya berdasarkan yang ada di atas maka adalah benar ketika pesan-pesan yang disampaikan oleh pemberita firman berjubah itu adalah suatu pesan judge bagi para pendengar (Umat/Jemaat).

Kini pakaian ini dipahami sebagai pakaian pelayanan firman dari mimbar gereja, suatu stola adalah suatu tanggungjawab yang dipikul oleh pemberita firman dan para pelayan unsur liturgis dalam suatu peribadatan.

Berbahagialah orang yang mendapat dan menjalani tugas sejarah untuk penguatan iman, pembentukan mental dan spiritual. Mereka yang bertanggungjawab terhadap tugas itulah yang empunya bagian dalam rumah kekekalan.

Hargailah Jubah pelayanan itu, itulah suatu pemaknaan terhadap sejarah dan perbuatan Tuhan dalam hidup manusia.

Pustaka:
https://sinodegmit.or.id/toga-pendeta
https://haumanarata.wordpress.com
https://baktijsitumorang.wordpress.com
Pdt.anthonytobing.blogspot.com
http://www.Gmim.or.id-“pakaian-jabatan-pendeta/warna-toga
Pdt.mauridssimamorasth.blogspot.com

Jangan Sibuk dengan Doa mereka, sibuklah dengan Doamu

Dalam Catatan beberapa Kamus, kata “Doa” dimaksudkan kepada suatu sikap menyampaikan permohonan kepada Tuhan yang tak dilihat secara kasat mata sebagai bentuk suatu keyakinan.

Secara Imanen kita mengartikan “Doa” sebagai nafas/lafas hidup orang percaya yang disampaikan dalam sikap diam/tenang, untuk menyampaikan keluh kesah (curhat), ungkapan syukur, pergimulan hidup setiap hari tentang apa yang telah dilewati, dijalani dan dirasakan dalam hidup.

Doa sebagai nafas hidup orang percaya menjadikan kita menganggap bahwa cara kita berdoa mempertontonkan siapa kita sesungguhnya.
Misalnya Budhist dengan caranya berdoa/sembahyang, Hindu, Muslim, Nasrani Protestan, Katolik, Yahudi, dan agama lain sebagainya.

Cara mereka berdoa sesungguhnya adalah tradisi agama yang diturunkan oleh leluhurnya sebagai tradisi agama turun temurun. Suatu agama memiliki tata cara beribadah dan utu adalah etis bagi dia.

Bagaimana cara anda berdoa?
Melipat tangan sambil berdiri? Lipat tangan sambil duduk? Lipat tangan dan tutup mata / buka mata?
Di kamar? Di jalan raya? Rumah sakit? Pasar?
Saat tenang? Risau?
Bahagia? Sedih?

Sesungguhnya kita terlalu kaku dalam berdoa dan membatasi doa sebagai media yang terlalu tertutup dalam perjumpaan kita dengan Tuhan yang kita Imani.

Ada kisah sederhana:
Semalam saya hendak pergi ibadah pemuda, dari rumah saya berdoa di kamar di depan meja tempat saya meletakan piring natzar, lipat tangan dan tutup mata sambil berdiri dan berucap “Tuhan, saya hendak pergi bersekutu untuk memuji-Mu dalam Kebaktian Pemuda. Jaga saya di jalan Tuhan 🙏”, dalam keteduhan yang menenagkan saya menarik nafas panjang dan menghembuskannya sambil mengucapkan kata “amin”.

Seketika saya ada dalam perjalanan, saat hendak menyeberang jalan, saya hampir ketabrak, saya berlari cepat dan berdiri di pinggir jalan itu (di trotoar), saya memandang ke langit, sambil meletakan salah satu tangan saya menyentuh dada, menarik nafas dalam-dalam (sempat merasa takut dan masih gemetar), saya berkata “Terimakasih Tuhan, Engkau menjagaku! Hampir saja saya celaka”, “Tuhan Yesus Tolong”.

Artinya doa kita tidak perlu orang lain tahu, sikap kita berdoa adalah bentuk emosi kita. Suatu respon perasaan tidak bisa ditebak². Kita tidak bisa menjudge seseirang adalah farisi, samaria atau golongan lainnya. Mereka menemukan Tuhan dalam keseharian mereka, mereka menempatkan Tuhan dalam seluruh aktifitas mereka.

Jangan kita menjudge seseorang karena caranya berdoa, sikapnya berdoa, dimana, kapan dan saat seperti apa seharusnya seseorang berdoa. Melainkan perbaikilah dirimu yang sampai kini belum 100% setulus hati berdoa dalam segala situasi (padahal bilangnya doa itu nafas hidup), tapi kalau susah berdoa, senang ngga 😅😅.

Jadi, Jangan lupa Doa Pagi bro.
Selamat pagi. 😉😜🤗😅🙏🙏

Tuhan memberkati kita .

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai