Paksa sebelum Paskah

Sebelum kusampaikan selamat Paskah, kupaksa kamu, saudara, untuk renungkan buah pikir yang pernah kita ceraikan berdua di meja jamuan.

Pada mulanya aku lahir dari rahim sagu. Ibu adalah yang kudus, tubuh, jiwa dan rohku. Pelepah-pelepah sagu tumbuh di lenganku. Duri-durinya, muncul dari lidahku. Atapku ialah kitabku. Firman ditulis oleh waktu, yang kupuja dari duniaku. Pasal-pasal adalah bangkawang yang menahan hahesi, ayat-ayat yang dikupas dari bambu-bambu kuning di Nunusaku.

Saudara, bukan kita yang kucurkan darah dari tulang-tulang gereja, tapi Dia. Mata kita hanyalah mata rumah yang melihat bumi, bukan yang menciptakan dunia ini.

Dengarkanlah, bunyi-bunyi kayu patah di hutan. Petani yang berharap pada sopi, mabuk dalam asap api. Orang-orang dari gunung, lelah mereka, segunung. Lautan bergemuruh. Tanuar hilang di tanjung. Perahu dimainkan pasang surut, nelayan adalah yang berharap pada musim. Orang-orang pantai, lelah mereka, sepanjang pantai.

Saudara, bukan kita yang berani mati, kita takut akan kematian tetapi berani membunuh. Salib menyalibkan kita lakukan setiap hari dengan bibir dan hati. Parlente adalah papalele dosa yang kita jual di dalam tempurung kelapa.

Lihat anak-anak kita yang melepas baju demi celana dan yang melepas celana demi baju. Hidup dijadikan alasan melepas banyak hal, termasuk iman.

Bukan kita yang memberi, kita yang menerima, jadi apa yang kita lepas, bukanlah milik kita.

Tak ada lagi yang aman di Aman Harur. Dusun-dusun jadi rumah susun, kebun jadi gedung, kintal jadi portal-portal berita bisnis. Gereja jadi kata yang dieja dengan mudah namun dilupakan dengan ludah. Tuhan disimpan dalam khotbah dan mantra-mantra disebut setan-setan budaya.

Saudara, bukan kita yang disalibkan, kita yang menyalibkan. Orang-orang kita ajak ke kuburan pada hari yang ketiga, bukan untuk dibangkitkan, tetapi untuk dikuburkan.

Apa yang bisa kita sisakan pada anak-anak cucu di pintu gereja selain kotak sumbangan dan tata ibadah yang berbeda-beda merek kertasnya?

Kucari saudaraku, nenek dengan kebaya hitam dan kaki telanjang dengan bekas paku di tangan dan kaki. Dia hilang oleh gelap malam, sebab siang hanyalah kesementaraan, seperti juga hidup kita.

Kucari Tete Manis, yang disiksa dengan parang, dicambuk dengan rotan, disiram dengan sageru. Setiap tahun kita salibkan dia, bunuh dia, lalu bangkitkan dia dalam naskah drama. Kucari dan dia ada dalam lagu-lagu disko usai acara paskah.

Dia adalah yang kita ingat sebagai natal dan yang kita khianati dalam paskah!

Selamat Paskah saudara.

Ambon, 31 Maret 2018

Oleh Ecko Saputra Poceratu

Kostor – Penjaga Rumah Ibadah

Kostor atau yang biasa kita kenal dengan istilah tuagama. Dalam perjalanan sejarah gereja, awalnya mereka ini diangkat untuk menolong dalam menjalankan tugas administratif gereja. Dan pada abad ke-19 kostor juga berfungsi untuk bersama_sama dengan pendeta turut memelihara kehidupan rohani Jemaat dalam hal pelayanan dan bersih-bersih rumah ibadat.

Kata Kostor berasal dari kata Latin “Custos” yang berarti penjaga. Di dalam perjanjian lama mereka disebut sebagai “nethinim” yang diterjemahkan dengan “budak bait Allah” dapat ditemukan dalm 1 Taw 9:2.

Ayat yang sama dengan itu pun dapat dijumpai dalam ezra 8:20 yang menyebutkan kostor atau “para budak di bait Allah” ialah mereka yang diperbantukan raja daud untuk membantu orang-orang lewi dalam penatalayanan di rumah ibadat.

Pengangkatan dan penetapan para kostor disesuaikan berdasarkan kepada kebutuhan tenaga pekerja untuk mengurusi bait Allah atau yang kita kenal saat ini dengan sebutan gedung gereja, mereka dipilih dan diangkat bahkan tinggal untuk melayani rumah Tuhan ditempat dimana mereka menetap (ezra 2:70).

Karena istilah “Budak” inilah, seringkali kostor di pandang dengan sebelah mata oleh semua orang dalam lingkungan gereja. Karena itu tidak jarang jika kita melihat kostor seperti orang suruhan dan terkadang “diperlakukan seenaknya oleh para pelayan bahkan warga jemaat”.

Selain terjemahan yang terdengar kasar, kata kostor sendiri memiliki terjemahan halus yakni “temple servants” atau para pelayan di bait Allah.

Secara liturgis kostor memiliki peran yang sama dengan para pelayan liturgis lainnya. Tetapi fungsi mereka berbeda, fungsi kostor yakni untuk menjaga dan memelihara rumah Allah (Gedung Gereja) dan tidak jarang bertindak sebagai penoki lonceng ibadah untuk memberikan tanda bahwa ibadah akan dilakukan.

Jaman ini, dibeberapa gereja dan atau jemaat, beberapa kostor mendapat tugas tambahan officer seperti TU atau pengantar surat di jemaat-jemaat pinggiran yang minim SDM dalam penatalayanan sehingga dalam kepengurusan administrasi gereja untuk mencatat ini dan itu, mengingatkan pelayanan dll, turut serta diberi peran bagi Kostor.

Hargailah kostor, karena tanpa adanya kostor dalam lingkungan gereja, maka pelayanan yang dilakukan oleh para pelayan (Pendeta, Guru Jemaat, Penatua dan Syamas) tidak akan maksimal.